TVRINews, Subang
Puluhan petani di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, menghadapi ancaman gagal tanam akibat menurunnya pasokan air irigasi seiring masuknya musim kemarau.
Kondisi tersebut mendorong para petani melakukan langkah darurat dengan mendatangi pintu irigasi utama di wilayah Subseksi Pengamat Air Ciberes, Kecamatan Patokbeusi, Selasa, 30 Juni 2026.
Para petani dari Desa Rawamekar mengeluhkan berkurangnya debit air yang berdampak pada ratusan hektare lahan persawahan yang mulai mengering dan sulit diolah untuk proses tanam.
Di lokasi, petani berupaya meningkatkan aliran air secara manual dengan mengganjal pintu Irigasi Tarum Timur menggunakan balok kayu. Langkah itu dilakukan agar distribusi air ke area persawahan kembali meningkat.
Selain melakukan upaya di pintu irigasi, para petani juga mendatangi kantor Pengamat Subseksi Ciberes serta melakukan pengecekan langsung ke pintu air BSI 12 untuk memastikan aliran air tetap mengalir ke lahan pertanian mereka.
Akibat kekurangan air, sejumlah lahan yang sebelumnya telah dibajak kembali mengeras dan tidak dapat ditanami. Kondisi ini menambah kekhawatiran petani terhadap potensi gagal panen.

Salah seorang petani, Sanudin, mengatakan bahwa minimnya pasokan air membuat bibit padi yang sudah disemai tidak dapat ditanam, bahkan sebagian di antaranya mengalami kematian.
"Bibit sudah siap tanam, tapi air tidak ada. Banyak yang akhirnya tidak bisa tumbuh dan mati," ujar Sanudin.
Para petani berharap pemerintah melalui instansi terkait dapat segera mengambil langkah penanganan agar distribusi air irigasi kembali normal. Dengan demikian, proses tanam dapat berjalan sesuai jadwal dan risiko gagal panen dapat diminimalkan.
Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Subang menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air irigasi. Diperlukan upaya jangka pendek maupun jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian di daerah tersebut.










