TVRINews, Sumedang
Dugaan kekerasan terhadap seorang siswa berusia 11 tahun di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sumedang, Jawa Barat, menjadi sorotan publik setelah informasi tersebut viral di media sosial. Pihak sekolah membantah kondisi luka yang ditampilkan dalam unggahan tersebut sesuai dengan kondisi siswa saat dijemput keluarganya. Meski demikian, pihak sekolah menyatakan akan menelusuri dugaan kekerasan tersebut.
Informasi itu beredar melalui platform media sosial Threads. Akun @ryu_reall mengunggah informasi bertanda *urgent* yang menyebut seorang siswa sekolah dasar kelas V berinisial MRA diduga mengalami kekerasan fisik oleh oknum wali asrama.
Dalam unggahan tersebut, korban disebut mengalami dugaan pemukulan hingga dugaan pembakaran kulit menggunakan rokok. Pengunggah juga menyebut adanya siswa lain yang diduga menjadi korban.
Informasi tersebut memicu perhatian masyarakat dan mendorong perlunya penelusuran lebih lanjut untuk memastikan kebenaran dugaan yang beredar.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sumedang, Cece Enjang Kartiwa, membenarkan bahwa MRA merupakan salah satu siswanya. Namun, pihak sekolah membantah kondisi wajah siswa tersebut mengalami luka seperti yang ditampilkan dalam unggahan viral.
Menurut Cece, MRA dijemput oleh kakek dan neneknya pada 8 Oktober 2026 untuk pulang sementara ke Tasikmalaya. Saat dijemput, siswa tersebut disebut dalam kondisi sehat.
“Sampai saat ini pihak sekolah akan menelusuri dugaan tersebut dan berkoordinasi dengan pimpinan pusat apabila ditemukan indikasi pelanggaran. Pihak sekolah juga perlu memastikan fakta yang sebenarnya agar penanganan dugaan kekerasan dapat dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Cece, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Sementara itu, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Ujung Jaya telah mendatangi Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Sumedang untuk mengonfirmasi informasi yang beredar di media sosial.
Camat Ujung Jaya, Gungun Nugraha, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil konfirmasi awal, MRA diketahui dijemput keluarganya dalam kondisi sehat dan tidak mengalami luka seperti yang disebutkan dalam unggahan viral.
“Hasil konfirmasi awal kepada pihak sekolah menunjukkan bahwa siswa tersebut dalam kondisi sehat ketika dijemput keluarganya. Pengecekan juga telah dilakukan ke Tasikmalaya untuk menelusuri kondisi siswa setelah pulang dari sekolah,” kata Gungun Nugraha.
Meski demikian, dugaan kekerasan tersebut masih memerlukan penelusuran lebih lanjut agar fakta kejadian dapat dipastikan secara menyeluruh.
Forkopimcam Ujung Jaya turut mendorong peningkatan pengawasan terhadap peserta didik di lingkungan sekolah dan asrama. Keterbatasan jumlah wali asuh juga menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian agar pendampingan terhadap siswa dapat berjalan optimal.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan perlindungan anak di lingkungan pendidikan, khususnya di sekolah berasrama. Setiap dugaan kekerasan terhadap peserta didik perlu ditangani secara serius, objektif, dan mengutamakan keselamatan serta hak anak.
Hingga berita ini disusun, dugaan kekerasan yang beredar di media sosial masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Kebenaran tuduhan terhadap pihak tertentu tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan unggahan media sosial maupun keterangan awal dari pihak sekolah.










