TVRINews, Garut
Kain tenun sutra tradisional Garut, Jawa Barat, terus bertahan di tengah perubahan tren fesyen dan tantangan daya beli masyarakat. Usaha tenun keluarga yang dirintis sejak 1980-an ini terus berinovasi dengan memadukan motif tradisional dan desain modern untuk menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk generasi muda.
Proses pembuatan kain tenun di Sutera Alam Soleh Garut masih mengandalkan alat tenun bukan mesin (ATBM). Melalui proses pengerjaan secara tradisional, para perajin mengolah benang menjadi kain yang digunakan untuk berbagai kebutuhan wastra atau kain tradisional Indonesia.
Bahan yang digunakan tidak hanya sutra, tetapi juga katun. Pemilihan bahan disesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan pelanggan.
Usaha tenun keluarga ini telah melewati perjalanan panjang selama lebih dari empat dekade. Dirintis oleh generasi pertama pada 1980-an, usaha tersebut kemudian diteruskan oleh generasi kedua pada 1990-an. Kini, pengelolaannya dilanjutkan oleh generasi ketiga dengan membawa inovasi untuk mempertahankan eksistensi tenun tradisional.
Dalam pemasarannya, Tenun SAS Garut menerapkan sistem business to business(B2B) dengan menjalin kemitraan bersama pelaku usaha di bidang wastra. Melalui pola pemasaran tersebut, produk tenun Garut dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Sumatera, Sulawesi, dan Jakarta.
Pengembangan produk juga dilakukan dengan menggali inspirasi dari beragam motif kain tradisional Nusantara. Motif Batak dan Toba menjadi salah satu motif yang banyak diminati pelanggan. Selain itu, Tenun SAS Garut mulai mempelajari motif Toraja serta membuka peluang mengembangkan motif dari daerah lain sesuai permintaan pasar.
Upaya tersebut dilakukan untuk memperluas pilihan produk sekaligus memperkenalkan kekayaan motif tradisional Indonesia kepada masyarakat yang lebih luas.
Untuk menarik minat generasi muda, perajin memadukan karakter motif tradisional dengan desain yang lebih modern tanpa meninggalkan identitas budaya yang menjadi ciri khas kain tenun Nusantara.
Hayyun Khoerunnisa, perajin Tenun SAS Garut, menyampaikan bahwa inovasi menjadi salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan usaha tenun tradisional di tengah perubahan tren fesyen.
“Kami berusaha mengembangkan motif dan desain agar bisa mengikuti perkembangan zaman. Namun, karakter tradisionalnya tetap dipertahankan, sehingga kain tenun ini tetap memiliki ciri khas dan nilai budaya yang menjadi identitasnya,” terang Hayyun, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Meski terus melakukan inovasi, pelaku usaha masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan sumber daya manusia dalam pengembangan motif menjadi salah satu kendala. Selain itu, daya beli masyarakat yang cenderung menurun turut memengaruhi perkembangan usaha.
Menurut Hayyun, kondisi pasar menuntut perajin untuk terus menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen, tanpa mengabaikan proses pembuatan dan kualitas kain tenun.
“Tantangannya antara lain pengembangan motif yang membutuhkan sumber daya manusia, serta daya beli masyarakat yang saat ini perlu menjadi perhatian. Karena itu, kami harus terus mencari cara agar produk tenun tetap diminati pasar.”
Dari sisi harga, produk Tenun SAS Garut dibanderol mulai Rp350 ribu hingga Rp4 juta. Perbedaan harga tersebut bergantung pada jenis bahan, kerumitan motif, serta tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya.
“Harga kain tenun berbeda-beda, tergantung bahan yang digunakan, motif, dan tingkat kesulitan pembuatannya. Setiap produk memiliki proses pengerjaan tersendiri yang turut menentukan harga jualnya.”
Di tengah perkembangan industri fesyen dan persaingan pasar, Tenun SAS Garut juga berupaya memperluas jangkauan pemasaran melalui pemanfaatan platform digital. Langkah ini diharapkan dapat memperkenalkan produk tenun tradisional kepada lebih banyak konsumen, termasuk generasi muda.
Melalui inovasi desain dan pengembangan pasar, Tenun SAS Garut berupaya menjaga keberlanjutan usaha kerajinan yang telah diwariskan lintas generasi. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelestarian warisan budaya Nusantara agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.










