TVRINews, Bandung
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bergerak cepat merespons hasil survei kesehatan mental Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang menunjukkan sekitar 10.000 siswa tingkat SD hingga SMA/sederajat di Kota Bandung mengalami masalah kesehatan mental. Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung tengah membangun ekosistem penanganan kesehatan mental terpadu yang melibatkan sekolah, orang tua, hingga layanan kesehatan publik.
Sebagai fondasi utama penanganan di tingkat masyarakat, Kemenkes telah mengarahkan pembukaan layanan psikologi klinis di 12 puskesmas yang tersebar di wilayah Kota Bandung. Layanan ini disiapkan untuk menjadi rujukan medis bagi para siswa yang membutuhkan penanganan ahli secara terukur.
Guna memastikan alur rujukan berjalan efektif dan tepat sasaran, Pemkot Bandung berfokus memperkuat peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah sebagai garda terdepan melalui program peningkatan kapasitas (capacity building).
"Untuk bisa mengirim siswa langsung ke sana (puskesmas), harus ada asesmen yang terstruktur. Asesmen pertama harus dilakukan oleh guru BK. Untuk itulah kita akan menyusun program peningkatan kapasitas bagi guru BK, sehingga mereka mampu melakukan asesmen awal untuk mengidentifikasi siswa yang mengalami gejala gangguan kesehatan mental," ujar Wali Kota Bandung, Farhan, Kamis, 3 September 2026.
Selain penguatan kapasitas teknis guru BK, strategi penanganan ini menekankan pentingnya pola komunikasi yang empatik dan terstruktur antara pihak sekolah dengan orang tua siswa. Komunikasi yang baik dinilai krusial untuk mencegah timbulnya stigma atau penolakan (resistensi) dari pihak keluarga.
"Sebelum dirujuk ke psikolog, mesti ada bentuk komunikasi yang tepat antara guru BK dan sekolah dengan para orang tua. Jangan sampai orang tua melakukan resistensi karena merasa tersinggung. Pendekatan humanis harus kita utamakan," jelas Farhan.
Dalam ekosistem terintegrasi ini, psikolog klinis berperan sebagai muara penanganan untuk kasus-kasus yang memerlukan intervensi spesialis. Siswa yang teridentifikasi membutuhkan bantuan tingkat lanjut berdasarkan hasil skrining awal akan dirujuk secara sistematis.
"Psikolog ini akan menjadi bagian dari ekosistem penanganan masalah kesehatan mental siswa. Apabila ada kasus-kasus khusus, rujukan akan dibuat secara proporsional dan profesional untuk dibawa ke puskesmas setempat yang menyediakan praktik psikologi klinis," pungkas Wali Kota Bandung, Farhan.
Melalui sinergi antara deteksi dini di sekolah, pendekatan humanis kepada orang tua, serta ketersediaan fasilitas psikologi di puskesmas, Pemkot Bandung optimistis dapat menekan angka gangguan kesehatan mental anak dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat secara holistik.









