TVRINews, Banjar
Budidaya ikan air tawar di Kota Banjar terus berkembang dengan inovasi baru. Salah satunya adalah pengembangan ikan bebeong, jenis ikan liar yang berasal dari Sungai Citanduy, yang kini berhasil dibudidayakan oleh kelompok masyarakat.
Kelompok Gemah Ripah di Dusun Citangkolo, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, menjadi pelopor budidaya ikan bebeong dengan memanfaatkan sistem kolam bioflok berukuran besar. Melalui teknologi tersebut, ikan yang sebelumnya dikenal sebagai ikan liar kini dapat dibudidayakan secara terkontrol.
Wali Kota Banjar, Sudarsono, mengapresiasi inovasi yang dilakukan kelompok pembudidaya tersebut. Ia menilai keberhasilan ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mendukung pelestarian spesies ikan lokal.
Sudarsono mengatakan, keberhasilan budidaya ikan bebeong menunjukkan potensi besar pengembangan perikanan di daerah.
"Selama ini kita mengira ikan bebeong tidak bisa dibudidayakan, tetapi ternyata bisa. Ini merupakan keberhasilan Kelompok Gemah Ripah dalam mengembangkan budidaya ikan lokal," ujar Sudarsono.
Sementara itu, pembudidaya ikan bebeong, Ijan, menyebutkan bahwa dalam satu siklus produksi, panen dapat mencapai sekitar 138 kilogram, meski sempat terdampak banjir dua kali. Untuk meningkatkan nilai jual, hasil panen juga diolah menjadi produk siap saji.
"Untuk pemasaran, kami olah menjadi produk siap goreng dan dikemas vakum. Harganya sekitar Rp30 ribu per kemasan, sedangkan ikan segar dijual sekitar Rp60 ribu per kilogram," kata Ijan.
Proses budidaya ikan bebeong membutuhkan waktu sekitar tujuh bulan hingga masa panen. Hasil produksi dipasarkan ke berbagai segmen, mulai dari konsumsi rumah tangga, pasar, hingga restoran.
Pemerintah Kota Banjar berharap pengembangan budidaya ikan bebeong dapat terus ditingkatkan karena dinilai berpotensi memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat.










