TVRINews, Bandung
Keterbatasan fisik tidak menjadi alasan bagi Damar, penyandang disabilitas daksa, untuk berhenti mengejar cita-cita. Kegigihannya mengantarkan Damar menjadi salah satu Aparatur Sipil Negara (ASN) berprestasi di lingkungan Pemerintah Kota Bandung.
Perjalanan Damar untuk mewujudkan cita-citanya sebagai pendidik tidak berlangsung mudah. Pada awalnya, keluarga sempat tidak memberikan izin karena khawatir dengan kondisi fisiknya dan jarak kampus yang cukup jauh.
"Pada awalnya untuk menjadi guru sebetulnya dulu tidak diizinkan oleh keluarga, karena mungkin dengan keterbatasan kondisi fisik saya, orang tua saat itu sangat khawatir karena lokasi universitas itu jauh," kata Damar kepada Humas Bandung.
Keraguan tersebut kemudian dijawab Damar dengan pembuktian. Berpegang pada prinsip hidup, "If you have a dream, you have a will; if you have a will, you have a way", ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Islam Nusantara (Uninus) dengan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia.
Perjuangannya berlanjut ketika memasuki dunia pendidikan. Damar mulai mengajar pada 2019. Saat itu, ia sempat diliputi kekhawatiran mengenai penerimaan siswa terhadap kondisi fisiknya.
"Saya pertama mengajar tahun 2019. Ketika itu saya takut. Apakah anak-anak mampu menerima saya atau tidak? Tapi seiring berjalannya waktu malah kenikmatan yang saya dapat. Banyak keberkahan yang saya dapatkan itu dari anak-anak," ujarnya.
Pengalaman diskriminasi yang pernah diterimanya ketika menjalani pendidikan juga menjadi dorongan bagi Damar untuk terus berkarya.
"Dengan rasa traumatis yang pernah saya rasakan ketika dulu berkuliah dikatakan cacat dan sebagainya, itu yang menjadikan motivasi yang luar biasa untuk diri untuk terus bergerak dan berkarya," tuturnya.
Dedikasi dan ketekunan Damar dalam mendidik siswa kemudian membuahkan penghargaan. Ia dinobatkan sebagai salah satu ASN berprestasi di lingkungan Pemerintah Kota Bandung.
Bagi Damar, menjadi guru tidak hanya berkaitan dengan menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Guru juga memiliki peran dalam membuka wawasan dan memperluas pengetahuan peserta didik.
"Guru itu bukan sekadar pembentuk dan penyampai ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai pionir dalam membuka pintu wawasan dan pengetahuan bagi para siswanya," katanya.
Damar juga mengajak masyarakat untuk tidak takut memiliki cita-cita meskipun menghadapi berbagai keterbatasan dan kesulitan.
"Bermimpilah dari mulai hal kecil, semesta akan mendukung ketika energi tersebut disalurkan dengan baik," pungkasnya.










