TVRINews, Kuningan
Krisis air bersih melanda Dusun Cirandeg, Desa Cihaur, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kemarau yang berlangsung selama beberapa bulan membuat sumber air warga mengering dan kebutuhan sehari-hari semakin sulit dipenuhi.
Kondisi ini membuat warga bergantung pada bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan.
Saat mobil tangki pembawa air tiba di lokasi, warga langsung berdatangan dengan membawa berbagai wadah, mulai dari ember, jeriken hingga galon. Mereka harus mengantre untuk mendapatkan air karena jumlah pasokan yang tersedia terbatas.
Sebagian warga bahkan harus menunggu hingga malam hari untuk mendapatkan giliran mengambil air.

Warga menyebut kekeringan mulai dirasakan sejak lebih dari tiga bulan terakhir. Sumur-sumur yang selama ini menjadi sumber air mulai mengering sehingga kebutuhan untuk memasak, mencuci, mandi, dan keperluan lainnya tidak lagi mudah dipenuhi.
Sutini, warga Dusun Cirandeg, mengatakan kondisi tersebut membuat masyarakat harus mencari alternatif untuk mendapatkan air bersih.
“Sudah beberapa bulan ini sumur warga mulai mengering. Untuk kebutuhan sehari-hari kami kesulitan, seperti untuk memasak, mencuci dan mandi. Jadi kalau ada bantuan air bersih, warga langsung datang membawa jeriken atau ember untuk mengambil air,” ujar Sutini.
Menurut Sutini, warga masih membutuhkan pasokan air bersih hingga kondisi sumber air kembali normal. Mereka berharap bantuan terus diberikan selama musim kemarau.
“Kami berharap bantuan air bersih bisa terus diberikan karena kondisi sekarang masih sulit mendapatkan air. Mudah-mudahan hujan segera turun dan sumur warga kembali terisi,” katanya.
Berdasarkan data sementara BPBD Kabupaten Kuningan, sedikitnya enam desa di sejumlah kecamatan terdampak krisis air bersih akibat kekeringan. BPBD menyalurkan bantuan secara bergilir ke wilayah terdampak dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan kondisi masing-masing desa.
Petugas BPBD Kabupaten Kuningan, Yayat, mengatakan distribusi air dilakukan secara bertahap agar bantuan dapat menjangkau sejumlah wilayah yang mengalami kekurangan air.
“Untuk sementara berdasarkan data yang kami terima, ada enam desa yang mengalami krisis air bersih. Kami melakukan penyaluran secara bergilir sesuai kebutuhan dan kondisi di masing-masing wilayah,” ujar Yayat.
Selain menyalurkan air, petugas juga terus memantau perkembangan kondisi di wilayah yang mengalami kekeringan. Pemantauan dilakukan untuk menentukan kebutuhan bantuan berikutnya.
“Kami terus melakukan pemantauan dan berupaya memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak. Penyaluran dilakukan secara bertahap agar bantuan bisa menjangkau warga yang membutuhkan,” katanya.
Bantuan air bersih tidak hanya berasal dari BPBD Kabupaten Kuningan. Polres Kuningan dan BAZNAS Kuningan turut menyalurkan bantuan kepada masyarakat di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.
Sementara itu, kondisi kekeringan diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa waktu ke depan. Berdasarkan prediksi BMKG yang tercantum dalam bahan berita, musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober.
Warga pun berharap distribusi air bersih tetap dilakukan selama sumber air belum kembali tersedia. Bantuan tersebut dinilai menjadi salah satu penopang kebutuhan dasar masyarakat selama menghadapi musim kemarau.
Krisis air bersih yang meluas di sejumlah desa di Kuningan menjadi perhatian pemerintah daerah dan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi hingga kondisi cuaca kembali membawa hujan.










