TVRINews, Bandung Barat
Perum Perhutani menyiapkan sekitar 20 juta bibit untuk mendukung penanaman di lahan seluas kurang lebih 26.000 hektare yang tersebar di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur pada 2026.
Hal tersebut disampaikan Direktur Operasi Perum Perhutani, Wawan Triwibowo, dalam kegiatan media engagement BP BUMN di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 17 September 2026.
Wawan mengatakan, Perhutani menargetkan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman minimal 95 persen pada tahun pertama. Sementara pada tahun kedua, tingkat keberhasilan tumbuh ditargetkan tidak kurang dari 85 persen.
“Tahun ini, Perum Perhutani akan menanam kurang lebih 26.000 hektare, dengan jumlah bibit yang akan kita buat kurang lebih 20 juta bibit, yang tersebar di wilayah Perum Perhutani, Divre Jabar, Divre Jateng, dan Divre Jatim,” ujar Wawan.
Selain program penanaman, Perhutani melalui Perhutani Forestry Institute juga mengembangkan Pinus Bocor Getah sebagai salah satu bibit unggulan. Pengembangan ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas getah pinus sekaligus menjaga keberlanjutan usaha kehutanan.
Perhutani sebelumnya telah mengembangkan teknologi perbanyakan vegetatif untuk bibit Pinus Bocor Getah melalui metode pencangkokan.
Pengelolaan hutan juga melibatkan masyarakat sekitar melalui berbagai bentuk kerja sama. Masyarakat dapat memperoleh manfaat dari potensi hutan, mulai dari sumber air, tanaman tumpangsari, hingga sektor wisata.
Perhutani Kembangkan Perdagangan Karbon
Di sisi lain, Perhutani diarahkan untuk mengembangkan sumber pendapatan baru melalui perdagangan karbon atau carbon trading. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi bisnis perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari penebangan pohon.
Direktur Pengelolaan Perusahaan Umum BP BUMN, Muhammad Khoerur Roziqin, mengatakan perdagangan karbon dapat menjadi salah satu sumber pendapatan yang sekaligus mendukung upaya menjaga kelestarian hutan.
“Salah satu fokus transformasi Perhutani itu adalah mengarahkan Perhutani nanti untuk bisa mendapatkan peningkatan revenue dari trading karbon. Dengan trading karbon ini nanti, itu akan bisa digunakan oleh Perhutani untuk menjaga kelestarian hutan, sehingga nanti Perhutani lebih mengurangi penebangan pohon,”ungkap Roziqin.
Menurut Roziqin, transformasi tersebut diharapkan tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan. Selain sumber air dan tanaman tumpangsari, masyarakat juga dapat memanfaatkan berbagai potensi hutan, termasuk sektor wisata.
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan, YB Priyatmo Hadi, mengatakan kegiatan media engagement memberikan kesempatan kepada jurnalis untuk melihat secara langsung proses pengelolaan hutan dan berdiskusi dengan manajemen Perhutani serta para pemangku kepentingan.
“Tujuannya adalah bagaimana teman-teman media bisa memiliki ruang untuk mengetahui langsung, bukan hanya membaca berita atau mendengarkan berita, tetapi melihat langsung di lapangan dan berdiskusi langsung dengan manajemen Perhutani, dan termasuk dengan stakeholder-nya,”kata Priyatmo.
Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi jurnalis untuk melihat proses bisnis Perhutani, mulai dari pembibitan, perawatan, penanaman, hingga kerja sama dengan masyarakat sekitar hutan.
Transformasi pengelolaan Perhutani mencakup pengembangan bibit unggulan, penanaman, kerja sama dengan masyarakat, serta pengembangan perdagangan karbon. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga fungsi ekologis hutan sekaligus membuka sumber manfaat ekonomi yang berkelanjutan.










