TVRINews, Bandung
Tumpukan sampah kembali menggunung di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Pasar Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Padahal, lokasi tersebut baru dibersihkan melalui kegiatan pembersihan besar-besaran sekitar satu bulan lalu.
Pantauan di lokasi, tumpukan sampah di TPS Pasar Baleendah mencapai tinggi hampir tiga meter. Kondisi tersebut menimbulkan bau tak sedap dan mulai mengganggu aktivitas pedagang maupun masyarakat di sekitar pasar.
Merespons kondisi itu, Pemerintah Kabupaten Bandung mulai melakukan pengangkutan sampah di area TPS guna mengurangi volume sampah yang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, pembersihan total TPS Pasar Baleendah dilakukan secara kolaboratif oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Kabupaten Bandung pada 30 April 2026. Namun, dalam waktu sekitar satu bulan, area TPS kembali dipenuhi sampah.
Perwakilan pedagang Pasar Baleendah, Indra Sukoco, mengatakan penumpukan sampah kembali terjadi karena pengangkutan sampah tidak dilakukan secara rutin.
“Pengangkutan terakhir hanya dilakukan pada tanggal 18 Mei kemarin dengan membawa satu kontainer. Setelah itu, tidak ada lagi aktivitas pengangkutan hingga memasuki awal Juni ini,”kata Indra.
Menurutnya, persoalan sampah di TPS Pasar Baleendah tidak hanya dipengaruhi tingginya volume sampah harian, tetapi juga berkaitan dengan pembiayaan pengangkutan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta tata kelola sampah yang belum optimal.
Program pemilahan sampah organik dan non-organik yang sebelumnya dicanangkan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) disebut belum berjalan maksimal. Akibatnya, seluruh jenis sampah kembali bercampur dan menumpuk di area TPS.
Padahal, pasca-pembersihan akhir April lalu, pemerintah bersama pedagang telah menyepakati bahwa TPS hanya digunakan untuk menampung sampah dari aktivitas pedagang Pasar Baleendah.
Namun, keterbatasan petugas pengelola dan minimnya pengawasan membuat sistem pemilahan sampah tidak berjalan efektif. Sampah organik dan non-organik kembali bercampur meski sosialisasi kepada pedagang telah dilakukan.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan di Pasar Baleendah. Bau menyengat dari tumpukan sampah membuat sebagian pengunjung enggan datang ke pasar sehingga memengaruhi omzet pedagang.
Selain itu, rembesan air lindi dari tumpukan sampah ditambah buruknya sistem drainase membuat kawasan sekitar pasar rawan tergenang air kotor saat hujan turun.










