TVRINews, Bandung
Upaya melestarikan seni bela diri tradisional terus dilakukan melalui berbagai kegiatan dan kompetisi. Salah satunya melalui Semarak Budaya Pasanggiri Pencak Silat tingkat SD dan SMP yang diikuti sejumlah pelajar dari Kota Bandung dan Kota Cimahi.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta menampilkan kemampuan terbaik dengan memperagakan berbagai teknik pencak silat. Sebanyak delapan perguruan turut ambil bagian, terdiri atas tujuh perguruan asal Kota Bandung dan satu perguruan dari Kota Cimahi.
Ketua Penyelenggara Pasanggiri Pencak Silat, Rizki Putra Utama, mengatakan kegiatan tersebut terlaksana melalui dukungan dan advokasi Ledia Hanifa Amaliah, anggota DPR RI, yang berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan.
Menurut Rizki, pasanggiri tidak hanya menjadi ajang kompetisi bagi para pelajar, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, sekaligus melestarikan pencak silat sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
"Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu mengembangkan kemampuan, sportivitas, serta mental bertanding," ujar Rizki, Senin, 10 Agustus 2026.
Sementara itu, Ledia Hanifa Amaliah mengatakan pasanggiri menjadi momentum untuk menghidupkan kembali, menjaga, dan memelihara objek pemajuan kebudayaan, salah satunya pencak silat.
Ledia menegaskan, kegiatan tersebut lebih menitikberatkan pada aspek budaya pencak silat, bukan semata-mata olahraga maupun kompetisi.
"Dari sisi budaya, bukan sisi olahraganya. Tentu kita mengembangkan budaya kita dan kita juga menginginkan agar generasi muda mengenali dan mencintai budaya Indonesia melalui pencak silat ini," ujar Ledia.
Menurut Ledia, pengenalan budaya kepada generasi muda penting dilakukan agar warisan budaya Indonesia tetap dikenal dan tidak kehilangan tempat di tengah perkembangan zaman.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sekaligus menjadi sarana untuk menanamkan nilai sportivitas serta kecintaan generasi muda terhadap budaya Indonesia.
Ledia juga menekankan bahwa pasanggiri tidak semata-mata harus dimaknai sebagai ajang untuk mencari pemenang. Meski dikemas dalam bentuk kompetisi, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi festival sekaligus perayaan budaya.
"Bukan untuk menang-menangan, tetapi meskipun bersifat kompetisi, kegiatan ini menjadi sebuah festival, sebuah perayaan guna mengingatkan bahwa Indonesia sangat kaya, terutama dalam budayanya," pungkasnya.
Rizki menambahkan, pihaknya berharap pasanggiri tersebut dapat menjadi wadah untuk menjaring sekaligus melahirkan pesilat muda berbakat yang mampu meraih prestasi di tingkat yang lebih tinggi.
Selain mengasah kemampuan teknik pencak silat, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni bela diri tradisional dan budaya Sunda.
Melalui pasanggiri tersebut, para pelajar diharapkan semakin mengenal dan mencintai pencak silat serta turut menjaga keberlangsungan budaya tradisional agar tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.









