TVRINews, Karawang
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax memicu peralihan konsumsi secara masif ke BBM subsidi jenis Pertalite. Dampaknya, antrean panjang kendaraan mulai terlihat di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, terutama pada jam-jam sibuk.
Pantauan di lapangan pada Minggu, 14 Juni 2026, menunjukkan lonjakan permintaan Pertalite terjadi setelah penyesuaian harga Pertamax dari Rp12.100 menjadi Rp16.250 per liter. Selisih harga yang cukup besar membuat banyak pengendara memilih beralih ke BBM subsidi untuk menekan pengeluaran harian.
Salah seorang pengendara, Imam, mengaku kenaikan harga Pertamax sangat berdampak terhadap biaya operasional yang harus ia keluarkan setiap hari.
"Kenaikannya cukup tinggi dan sangat memberatkan pengeluaran harian," ujarnya kepada tvrinews.com, Minggu 14 Juni 2026.
Peralihan konsumen dari Pertamax ke Pertalite berdampak langsung pada meningkatnya kepadatan di jalur pengisian BBM subsidi tersebut. Pengendara harus menghabiskan waktu tunggu lebih lama dibandingkan sebelum penyesuaian harga diberlakukan.
Di sejumlah SPBU, antrean kendaraan tampak mengular sejak pagi hingga siang hari. Kondisi ini menjadi fenomena baru yang muncul setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai berlaku.
Sementara itu, pemerintah menyatakan penyesuaian harga Pertamax dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak mentah dunia serta pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa penetapan harga baru tersebut telah dihitung berdasarkan formula yang berlaku dan tetap memperhatikan daya beli masyarakat.
Kenaikan harga Pertamax yang cukup signifikan diperkirakan akan terus memengaruhi pola konsumsi BBM masyarakat dalam beberapa waktu ke depan, termasuk meningkatkan permintaan terhadap Pertalite di berbagai daerah.










