TVRINews, Tasikmalaya
Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Indonesia (KASAI), Prof. Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan perlunya restorasi pembangunan pertanian nasional melalui penguatan ekosistem agribisnis yang kolaboratif, inovatif, dan berkelanjutan. Hal itu disampaikannya saat ditemui di Tasikmalaya, Sabtu, 27 Juni 2026.
Menurut Prof. Achmad, pembangunan sektor pertanian Indonesia tidak lagi cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Di tengah tantangan perubahan iklim, regenerasi petani, hingga dinamika pasar global, diperlukan perubahan paradigma menuju pembangunan ekosistem agribisnis yang mampu menciptakan nilai tambah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
"Jika pertanian Indonesia ingin survive dan tumbuh di era disruptif, kita harus berani keluar dari logika produksi semata. Yang dibutuhkan adalah membangun ekosistem pertanian yang kuat, adaptif, dan berkelanjutan," ujar Prof. Achmad.
Ia mengakui capaian produksi beras nasional pada 2025 yang diperkirakan mencapai sekitar 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya, merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, menurutnya, keberhasilan tersebut belum mampu menjawab berbagai persoalan mendasar yang masih membelit sektor pertanian.
Sejumlah tantangan tersebut antara lain masih didominasinya petani berusia di atas 45 tahun, rendahnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, tingginya alih fungsi lahan produktif, degradasi kualitas lahan, dampak perubahan iklim yang semakin nyata, hingga belum optimalnya rantai nilai agribisnis dan pemanfaatan teknologi modern.
Berdasarkan hasil kajian, riset, dan diskusi yang dilakukan KASAI, terdapat lima agenda strategis yang dinilai perlu menjadi prioritas pembangunan pertanian nasional pasca-2026.
Pertama, memperkuat sistem budidaya pertanian melalui integrasi ilmu pengetahuan, teknologi modern, dan kearifan lokal guna meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
Kedua, mendorong transformasi petani menjadi agripreneur yang memiliki orientasi pasar melalui penguatan kapasitas usaha, literasi bisnis, serta pemanfaatan teknologi digital.
Ketiga, membangun ekosistem kolaboratif yang melibatkan petani, pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, komunitas, dan media sebagai mitra strategis pembangunan pertanian.
Keempat, mempercepat hilirisasi komoditas pertanian agar menghasilkan produk olahan bernilai tambah tinggi, memiliki merek yang kuat, dan mampu bersaing di pasar ekspor.
Kelima, memperluas penerapan konsep Climate Smart Agriculture sebagai model pertanian yang efisien, ramah lingkungan, adaptif terhadap perubahan iklim, sekaligus berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon.
Prof. Achmad menegaskan, transformasi tersebut harus dibangun di atas penguatan modal sosial masyarakat, seperti semangat gotong royong, saling membantu, saling menghormati, dan budaya belajar bersama.
"Modal sosial menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi proses transformasi maupun tekanan ekonomi. Dengan kebersamaan, kita dapat mempercepat kemajuan sektor pertanian Indonesia," ucapnya.
Ia optimistis, apabila transformasi menuju ekosistem agribisnis berkelanjutan dapat diwujudkan, dampaknya akan dirasakan secara luas, mulai dari meningkatnya kesejahteraan petani, terjaganya ketahanan pangan nasional, terciptanya lapangan kerja berkualitas, menguatnya ekonomi daerah, hingga terpeliharanya keberlanjutan lingkungan.
Sebagai organisasi profesi yang menghimpun alumni bidang sosial ekonomi pertanian dan agribisnis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, KASAI menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi melalui riset, advokasi kebijakan, pengembangan sumber daya manusia, serta penguatan ekosistem pertanian nasional menuju Indonesia yang maju dan berkelanjutan.










