TVRINews, Bandung
Pemerintah Kota Bandung siagakan faskes hadapi ISPA dan wajibkan siswa bermasker di tengah sebaran abu vulkanik.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
"Dari kemarin sudah kami keluarkan imbauan kepada masyarakat untuk tidak usah panik. Bagaimanapun juga abu vulkanik merupakan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia yang berada di Ring of Fire," ujar Farhan, dikutip Selasa, 8 September 2026.
Guna meminimalkan dampak buruk terhadap kesehatan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mewajibkan anak-anak sekolah menggunakan masker saat beraktivitas. Farhan menyebut telah meninjau sejumlah sekolah dan memastikan para siswa mulai menerapkan protokol perlindungan tersebut.
Selain pengaplikasian masker, abu vulkanik yang tersisa di lingkungan sekolah pasca-akhir pekan diminta untuk segera dibersihkan agar tidak kembali beterbangan. Pemkot mencatat, meski abu di permukaan mulai dibersihkan, sebaran abu di udara masih berpotensi berada di ketinggian 10.000 hingga 15.000 kaki (sekitar 3–5 km).
Di sektor kesehatan, Farhan menginstruksikan seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan (faskes) di Kota Bandung untuk bersiap menghadapi potensi lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Ia menegaskan faskes dilarang keras menolak pasien yang membutuhkan penanganan.
Menyikapi potensi kelangkaan masker, Pemkot Bandung akan memantau ketersediaan di toko modern, penyedia alat kesehatan, hingga stok di Dinas Kesehatan guna mencegah lonjakan harga dan tindakan penimbunan. Scema pembagian masker gratis pun masih dikaji agar tidak memicu kenaikan harga pasar akibat pemborongan dalam jumlah besar oleh pemerintah.
Hingga saat ini, Pemkot Bandung belum menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Kegiatan belajar mengajar di sekolah tetap berlangsung tatap muka dengan syarat siswa wajib mengenakan masker.
Erupsi ini juga berdampak pada sektor transportasi. Akibat pembatalan sejumlah penerbangan dari Jakarta menuju kota-kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur, lonjakan penumpang dialihkan melalui jalur darat dan kereta api via Bandung. Hingga Senin siang pukul 13.00 WIB, penerbangan dari Bandung sendiri masih belum diizinkan beroperasi.
"Banyak yang dari Jakarta gagal terbang ke arah Surabaya, Jogja, Solo, kemudian naik bus ke Bandung dan dari Bandung mereka naik kereta api ke arah timur," terang Farhan.
Untuk mengantisipasi penumpukan, Pemkot Bandung berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan guna menambah armadanya.
Di sisi lain, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskar PB) Kota Bandung dikerahkan untuk melakukan penyemprotan air di sejumlah ruas jalan protokol, trotoar, hingga pepohonan guna menekan debu jalanan.
Kepala Diskar PB Kota Bandung, Sony Bachtiar, mengungkapkan penyemprotan difokuskan pada area padat aktivitas dan jalur wisatawan dengan memanfaatkan air dari hidran serta kolam retensi.
"Hari ini kami melakukan penyemprotan di Jalan Asia Afrika dan Jalan Ir. H. Juanda. Nanti malam kami lanjutkan ke Jalan Supratman sampai Purwakarta, kemudian Jalan Dipatiukur dan R. E. Martadinata," kata Sony.










