TVRINews, Jawa Barat
Memasuki puncak musim kemarau, potensi terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai diantisipasi secara serius oleh petugas gabungan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Ratusan personel gabungan menggelar apel kesiapsiagaan Karhutla di kawasan Objek Wisata Waduk Darma, Kabupaten Kuningan.
Apel tersebut digelar untuk memastikan kesiapan personel, peralatan, material, serta koordinasi lintas sektoral dalam menghadapi potensi kebakaran. Dengan kesiapan tersebut, proses penanganan dan pemadaman diharapkan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terukur apabila sewaktu-waktu terjadi Karhutla.
Ratusan personel yang terlibat berasal dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, aparat desa, satuan tugas (satgas), BBWS Cimanuk Cisangarung, hingga relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning.

Selain menyiagakan personel, sejumlah peralatan pemadam Karhutla juga disiapkan di lokasi. Di antaranya Alat Pemadam Api Ringan (APAR), dirt shooter, serta mesin penyemprot air bertekanan tinggi.
Mesin penyemprot tersebut memiliki kemampuan jangkauan tembak air hingga 80 meter, sehingga diharapkan dapat membantu petugas menjangkau titik-titik kebakaran yang sulit didekati secara langsung.
Untuk memperkuat pemantauan dan pencegahan di lapangan, relawan MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning juga melibatkan personel tambahan dari sejumlah Kelompok Tani Hutan (KTH).
Personel tambahan tersebut berasal dari KTH Desa Gunung Sirah, KTH Karangsari, dan KTH Sagarahiang.
Wilayah Darma Masih Aman
Meskipun hingga saat ini wilayah Kecamatan Darma masih dalam kondisi aman dan belum terjadi insiden kebakaran besar, pengawasan tetap diperketat.
Seluruh unsur yang terlibat sepakat untuk tidak mengendurkan langkah pencegahan, terutama di kawasan yang memiliki potensi terdampak kebakaran saat kondisi kemarau semakin kering.
Kapolsek Darma, AKP Farikin, bersama Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, Nardar Junar Arif, menekankan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan, khususnya kawasan di sekitar kaki Gunung Ciremai.
"Kami sampaikan kepada unsur masyarakat darma agar tetap hati-hati dalam pembukaan lahan, harus benar-benar diawasi. Jangan membuka lahan dengan membakar api," ujarnya, dikutip Selasa, 8 September 2026.
Masyarakat maupun para petani juga diimbau tidak melakukan pembersihan lahan atau kebun dengan cara dibakar.
Penggunaan api untuk membuka atau membersihkan lahan dinilai sangat berisiko, terlebih saat musim kemarau ketika kondisi vegetasi cenderung kering dan mudah terbakar.
Api yang awalnya digunakan untuk membersihkan lahan dapat dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan. Bahkan, kobaran api berpotensi meluas hingga merembet ke kawasan hutan lindung Gunung Ciremai.
Karena itu, petugas mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan berperan aktif dalam mencegah terjadinya Karhutla selama puncak musim kemarau.










