TVRINews, Bogor
Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, terus mendorong pengelolaan sampah dari sumber dengan menghadirkan fasilitas Waste Station di kawasan Balai Kota Bogor.
Fasilitas tersebut tidak hanya menjadi tempat penyetoran sampah yang masih memiliki nilai ekonomi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi untuk membangun kebiasaan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.
Waste Station Balai Kota Bogor hadir melalui kolaborasi Pemerintah Kota Bogor dengan Rekosistem, Yayasan Materia, Ford Foundation, Parongpong RAWHAUS, Kementerian Dalam Negeri, serta Kementerian Lingkungan Hidup.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim mengatakan keberadaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Ini bagian dari upaya kita, Pemerintah Kota Bogor, memastikan arah kebijakan pengelolaan sampah dari hulu ke hilir ini berjalan. Dengan bantuan Rekosistem, Yayasan Materia, dan Parongpong RAWHAUS, serta dukungan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Lingkungan Hidup, kita mewujudkan satu tempat yang nantinya bisa diakses masyarakat dengan lebih mudah,” ujar Dedie.
Sampah Ditukar Poin
Melalui fasilitas tersebut, masyarakat dapat menyetorkan berbagai jenis sampah yang telah dipilah. Sampah yang diterima meliputi plastik, kardus, kertas, logam, kaca, minyak jelantah, sampah elektronik, hingga sampah organik.
Setiap sampah yang disetorkan akan memiliki nilai poin berdasarkan jenis dan beratnya. Poin tersebut selanjutnya dapat dikonversi menjadi saldo uang digital maupun dikirimkan ke rekening bank melalui aplikasi Rekosistem.
Nilai sampah yang diterima berkisar antara Rp100 hingga Rp6.000 per kilogram, tergantung kategori dan jenis material.
Menurut Dedie, penempatan Waste Station di lingkungan Balai Kota juga diharapkan dapat mendekatkan layanan pengelolaan sampah kepada masyarakat yang beraktivitas di kawasan tersebut.
Dorong Budaya Memilah
CEO Parongpong RAWHAUS Rendy Aditya Wachid mengatakan fasilitas tersebut dirancang tidak hanya untuk mengelola sampah, tetapi juga memberikan insentif ekonomi agar masyarakat terdorong melakukan pemilahan sejak dari sumber.
“Kita harapannya bisa men-support Wali Kota Bogor dan Pemerintah Kota Bogor untuk membangun budaya masyarakat memilah dari sumber. Yang terpenting bukan hanya infrastrukturnya, tetapi bagaimana masyarakat ikut terlibat dan mengelola sampahnya dengan baik,” kata Rendy.
Pengelolaan sampah berbasis masyarakat dinilai penting untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Pemilahan sejak awal juga memungkinkan material yang masih bernilai untuk didaur ulang atau dimanfaatkan kembali.
Pemkot Bogor membuka peluang menambah Waste Station di sejumlah titik strategis jika respons dan partisipasi masyarakat terus meningkat.
Selain penguatan pengelolaan sampah dari sumber, Pemkot Bogor juga tengah menyiapkan rencana pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste to energy.
Pemerintah Kota Bogor menargetkan fasilitas tersebut dapat mulai dibangun dalam dua tahun ke depan sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem pengelolaan sampah sekaligus mengurangi beban tempat pembuangan akhir.










