TVRINews, Bandung
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Bandung masih berada di bawah rata-rata Provinsi Jawa Barat. Pemerintah Kota Bandung pun menilai kondisi tersebut sebagai pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan melalui penguatan budaya membaca serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan berdasarkan hasil pengukuran terbaru, IPLM Kota Bandung berada di angka 15,8, sedangkan rata-rata IPLM Jawa Barat telah mencapai 18,7. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa aktivitas literasi di Kota Bandung belum berjalan secara optimal dan masih didominasi kegiatan yang bersifat seremonial.

"Nilai IPLM Kota Bandung masih berada di bawah rata-rata Jawa Barat. Ini menjadi evaluasi bagi kami untuk menghadirkan program literasi yang lebih nyata, berkelanjutan, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ujar Farhan, dikutip Rabu, 5 Agustus 2026.
Untuk meningkatkan budaya literasi, Pemerintah Kota Bandung akan mengoptimalkan berbagai program, salah satunya mengaktifkan kembali perpustakaan sebagai ruang belajar dan membaca bagi masyarakat.
Selain itu, Pemkot Bandung melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan juga menggelar bazar buku Big Bad Wolf pada 3–9 Agustus 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan minat baca warga.
Tidak hanya itu, Pemkot Bandung juga akan mendorong pengembangan mini library berbasis komunitas dengan memberikan dukungan kepada kelompok masyarakat yang aktif mengembangkan kegiatan literasi di lingkungan masing-masing.

"Kami ingin gerakan literasi tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga tumbuh dari masyarakat. Karena itu, komunitas yang mengembangkan perpustakaan atau ruang baca akan kami dukung agar jangkauannya semakin luas," kata Farhan.
Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, menilai peningkatan literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas membaca. Menurutnya, diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, komunitas, lembaga pendidikan, hingga masyarakat agar budaya membaca semakin mengakar.
"Kolaborasi menjadi kunci. Fasilitas membaca memang penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memiliki kebiasaan membaca dan mudah mengakses sumber-sumber pengetahuan," ujar Ledia.
Ia juga menambahkan bahwa literasi pada era digital tidak lagi terbatas pada buku cetak. Masyarakat dapat memanfaatkan berbagai platform digital sebagai sumber pembelajaran selama informasi yang diakses berasal dari sumber yang kredibel.
"Literasi hari ini tidak hanya melalui buku. Berbagai media digital dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan, sehingga budaya belajar dan membaca dapat menjangkau lebih banyak masyarakat hingga ke lingkungan permukiman," tuturnya.
Melalui penguatan program literasi, pengembangan perpustakaan komunitas, serta kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Kota Bandung berharap nilai IPLM dapat terus meningkat sekaligus membangun budaya membaca yang lebih kuat di tengah masyarakat.









