TVRINews, Sumedang
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Manik menguji coba sistem prasmanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MTs Muhammadiyah Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Pelaksanaan uji coba tersebut ditinjau langsung Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Tanjungsari, pada Senin, 12 Oktober 2026.
Melalui sistem ini, siswa mengambil makanan secara mandiri dengan mengantre, menggantikan metode pembagian makanan dalam ompreng per porsi. Skema tersebut diharapkan dapat menjaga makanan tetap segar dan hangat saat dikonsumsi.
Salah seorang siswi, Tuti Nurhayati, mengaku lebih menyukai metode prasmanan karena makanan terasa lebih segar dan memungkinkan siswa menambah porsi sesuai ketentuan.
"Lebih enak prasmanan karena makanannya lebih fresh dan hangat. Kalau pakai ompreng, terkadang makanan sudah tidak hangat," kata Tuti.
Menurut Tuti, menu yang disajikan saat uji coba terdiri atas nasi, ayam, sayur, tempe, dan buah lengkeng. Ia berharap metode tersebut dapat terus diterapkan apabila hasil evaluasinya dinilai baik.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir mengatakan, uji coba yang telah berlangsung sekitar satu pekan tersebut merupakan upaya meningkatkan kualitas pelayanan MBG. Selain menjaga kualitas makanan, sistem ini diharapkan dapat menumbuhkan kedisiplinan dan kebersamaan melalui budaya mengantre.

"Ini ikhtiar untuk terus melakukan perbaikan. Kalau hasil evaluasinya bagus dan manfaatnya lebih banyak, sistem prasmanan bisa diterapkan secara bertahap di sekolah lain," ujar Dony.
Dony menegaskan, penerapan metode prasmanan masih dalam tahap uji coba dan belum menjadi kebijakan menyeluruh. Evaluasi akan dilakukan untuk mengukur efektivitas serta kesiapan sekolah sebelum sistem tersebut diperluas.
Sementara itu, Mitra SPPG Gunung Manik, Adila Naily Huda, mengungkapkan bahwa pihaknya menjadi satu dari 60 dapur di Indonesia yang terpilih menjalankan proyek percontohan MBG dengan sistem prasmanan.
Menurut Adila, penyajian nasi, lauk, sayur, dan buah secara terpisah bertujuan menjaga kualitas makanan hingga diterima siswa. Pelaksanaannya juga membutuhkan keterlibatan pihak sekolah dan siswa.
"Tujuannya agar makanan sampai kepada anak-anak dalam keadaan lebih hangat dan segar. Selain menikmati makanan, siswa juga belajar tentang kebersamaan dan kandungan gizi," ungkap Adila.
Adila menambahkan, kesiapan sekolah untuk terlibat dalam proses pembagian makanan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Melalui sistem ini, siswa juga diharapkan dapat belajar mengenai kandungan gizi makanan dan membangun kebersamaan saat makan bersama.
Uji coba tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan kelayakan penerapan sistem prasmanan dalam meningkatkan mutu layanan program MBG di Kabupaten Sumedang.










