TVRINews - Cirebon
Kopi dari lereng Gunung Ciremai, Jawa Barat, mulai menembus pasar internasional. Kopi yang dibudidayakan petani di Desa Puncak, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, tersebut telah dipasarkan hingga Thailand, Jepang, dan Amerika Serikat.
Tanaman kopi tumbuh pada ketinggian 750 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Dari kawasan tersebut, petani mampu menghasilkan sekitar 20 hingga 25 ton cherry kopi setiap tahun.
Biji kopi pilihan kemudian diproses oleh petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Buana Ciremai. Kelompok tani tersebut telah dirintis sejak tahun 2000-an dan kini produknya mulai menjangkau pasar dalam dan luar negeri.
Anggota Kelompok Tani Buana Ciremai, Robi, mengatakan kopi dari lereng Ciremai memiliki karakter rasa yang khas, terutama pada jenis Arabika. Menurutnya, kopi tersebut cenderung memiliki rasa manis, lembut, serta karakter buah yang lebih kuat.

“Untuk spesialnya kita di sini, kopinya cenderung lebih manis, smooth, untuk buahnya juga lebih ada. Cenderung gaya Arabika,” ujar Robi.
Arabika menjadi komoditas utama dengan porsi sekitar 70 persen. Sementara itu, jenis Robusta dan Liberika masih terus dikembangkan.
Meski jumlah ekspor masih terbatas, kopi dari lereng Ciremai telah dikirim dalam bentuk green bean atau biji kopi mentah. Di negara tujuan, biji kopi tersebut kemudian diolah dan dikemas kembali sebelum dipasarkan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengatakan pengembangan komoditas kopi diarahkan untuk meningkatkan potensi ekspor. Dukungan diberikan dari sisi hulu hingga hilir, termasuk peningkatan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produksi.
“Ketika kita bicara ekspor, tentu saja kita harus bicara kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Semua program dari hulu sampai hilir diarahkan untuk meningkatkan kualitas, memperbanyak kuantitas, dan menjaga kontinuitas ketika permintaan kopi ini tinggi,” ujar Wihujeng.
Menurut Wihujeng, ekspor kopi dari kelompok binaan Bank Indonesia sudah dilakukan meski jumlahnya belum besar dan masih didominasi dalam bentuk green bean. Karena itu, pengembangan ke depan juga diarahkan pada proses pengolahan dan pengemasan agar identitas kopi lokal semakin kuat di pasar internasional.
Kopi dari lereng Gunung Ciremai memiliki karakter cita rasa floral dan fruity dengan aftertaste manis. Potensi tersebut menjadi modal bagi petani untuk terus mengembangkan kualitas kopi sekaligus memperluas pasar.
Pengembangan dari hulu hingga hilir diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi komoditas kopi, tetapi juga membawa cita rasa khas Ciremai dan nama kopi lokal Jawa Barat semakin dikenal di pasar global.










