TVRINews, Bogor
Kehadiran Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bogor tak hanya berdampak pada pemenuhan gizi pelajar dan ibu hamil, tetapi juga menghadirkan inovasi ramah lingkungan melalui pengolahan limbah dapur menjadi pupuk pertanian.
Inisiatif ini digagas oleh Sukimin, praktisi pertanian sekaligus pengelola Dapur MBG di wilayah Cimanglid, Kecamatan Tamansari. Ia memanfaatkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk mengolah limbah cair dan sisa makanan menjadi nutrisi bagi tanaman.
Sukimin menjelaskan, limbah dari aktivitas dapur seperti sisa cucian wadah makan (ompreng) dan makanan tidak langsung dibuang. Seluruh limbah terlebih dahulu disortir dan ditampung dalam bak IPAL khusus untuk kemudian diolah.

"Iya, ini pengolahan IPAL dari Dapur MBG. Kita tampung semuanya, kemudian kita olah sedemikian rupa untuk dijadikan pupuk bagi lahan pertanian," ujar Sukimin saat ditemui di lokasi pengolahan, Selasa, 5 Mei 2026.
Hasil olahan tersebut kini dimanfaatkan untuk menyuburkan lahan pertanian dan perkebunan palawija di Kampung Nyalindung, Kabupaten Bogor. Sistem ini sekaligus menjawab kekhawatiran masyarakat terkait potensi pencemaran lingkungan dari aktivitas dapur skala besar.
Selain mengurangi limbah, pemanfaatan IPAL ini juga memberikan sejumlah manfaat. Di antaranya menjaga lingkungan tetap bersih karena limbah tidak mencemari drainase atau sungai, meningkatkan efisiensi pertanian dengan suplai pupuk organik gratis, serta menjadi sarana edukasi bagi pelajar tentang praktik pertanian berkelanjutan.
Program ini bahkan mulai dilirik sebagai percontohan bagi pengelola Dapur MBG lainnya, khususnya di Jawa Barat. Dengan pengelolaan limbah yang tepat, program nasional Makan Bergizi Gratis dinilai dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian lingkungan.
Kini, sisa makanan dari piring para siswa tidak lagi berakhir sebagai sampah, melainkan kembali ke tanah untuk menjadi sumber kehidupan baru yang akan dipanen dan dikonsumsi kembali oleh masyarakat.










