TVRINews, Subang
Kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi membuat ratusan nelayan di kawasan Pantai Utara (Pantura) Muara Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat, terpaksa berhenti melaut. Akibatnya, puluhan kapal nelayan bersandar di dermaga, sementara para nelayan kehilangan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut terjadi di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) KUD Mina Bahari, Desa Muara, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang. Dalam sepekan terakhir, aktivitas melaut para nelayan terganggu akibat keterbatasan pasokan solar bersubsidi.
Bukan karena cuaca buruk maupun gelombang tinggi, para nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut karena kesulitan memperoleh bahan bakar untuk mengoperasikan kapal mereka.

Kondisi ini disayangkan para nelayan karena hasil tangkapan ikan di laut disebut mulai membaik. Namun, keterbatasan pasokan solar justru menjadi kendala bagi mereka untuk kembali melaut dan memperoleh penghasilan.
Salah seorang nelayan, Anwar, mengatakan kesulitan mendapatkan solar bersubsidi berdampak langsung terhadap aktivitas melaut dan pendapatan nelayan.
“Solar sekarang sulit didapat. Kami harus mencari ke beberapa tempat, tetapi terkadang stoknya sudah habis. Akibatnya, kami tidak bisa melaut dan kehilangan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga," kata Anwar dikutip Minggu, 11 Oktober 2026.
Di tengah keterbatasan pasokan tersebut, sejumlah nelayan bahkan harus bersaing mendapatkan solar yang tersedia. Mereka berharap pasokan bahan bakar dapat kembali normal agar aktivitas penangkapan ikan tidak terus terhenti.
Sementara itu, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di kawasan TPI KUD Mina Bahari hingga kini belum dapat beroperasi. Pengurus KUD masih mengurus perizinan kepada instansi terkait agar fasilitas tersebut dapat melayani kebutuhan bahan bakar para nelayan.
Selama SPBN belum beroperasi, nelayan terpaksa mengandalkan pembelian solar di sejumlah SPBU yang telah ditunjuk, salah satunya SPBU Ciasem Hilir. Namun, keterbatasan stok di SPBU tersebut membuat nelayan kerap tidak kebagian solar karena pasokan telah habis.
Ketua KPL Mina Bahari Muara Ciasem, Ade Kardi, mengatakan ketersediaan solar menjadi salah satu kendala yang dihadapi nelayan. Pihaknya berharap persoalan pasokan bahan bakar dan perizinan SPBN dapat segera ditangani.
“Kami berharap kuota solar bersubsidi untuk nelayan bisa ditambah. Kami juga berharap proses perizinan SPBN KUD Mina Bahari segera selesai agar nelayan lebih mudah mendapatkan bahan bakar untuk melaut," ujarnya.
Para nelayan berharap Pertamina dapat mengevaluasi kebutuhan solar bersubsidi di kawasan Muara Ciasem. Selain itu, penyelesaian perizinan SPBN KUD Mina Bahari diharapkan dapat memperlancar penyaluran bahan bakar bagi nelayan.
Dengan tersedianya solar yang memadai, para nelayan berharap kapal-kapal yang kini bersandar dapat kembali beroperasi. Mereka pun dapat melaut dan memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.










