TVRINews, Bandung
Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta menilai posisi geografis Indonesia yang strategis merupakan modal penting untuk memperkuat peran Indonesia di tengah perubahan tatanan global.
Namun, posisi tersebut perlu diikuti kemampuan memahami dan menavigasi dinamika geopolitik dunia.
Hal itu disampaikan Anis Matta saat memberikan kuliah umum bertema “Wawasan Geopolitik dan Kebangsaan” di Aula Paguyuban Pasundan, Kota Bandung, Rabu, 30 September 2026.
Anis mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran lebih besar dalam dinamika global, termasuk dalam membangun hubungan dengan dunia Islam.
Menurutnya, perubahan geopolitik yang berlangsung cepat menuntut Indonesia memiliki kemampuan membaca situasi dan menentukan langkah yang sesuai dengan kepentingan nasional.
“Di sini ada peran yang tersisa bagi kita. Tantangannya adalah karena secara geografis kita diuntungkan. Indonesia harus mampu menavigasi turbulensi dunia agar tetap bertumbuh,” ujar Anis.
Anis juga menekankan pentingnya pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi perubahan global.
Menurutnya, lembaga pendidikan tidak cukup hanya membekali peserta didik dengan kemampuan akademik, tetapi juga perlu memperkuat pemahaman terhadap perkembangan teknologi, ekonomi, sosial, politik, dan geopolitik internasional.
“Paguyuban harus menciptakan otak politik dan ekonomi untuk masa yang akan datang,” ucapnya.
Anis mengapresiasi peran Paguyuban Pasundan dalam mengembangkan pendidikan. Ia menilai kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi persaingan global.
“Kita hidup di era di mana inti dari semua pergerakan geopolitik pada dasarnya adalah perang kognitif, perang otak. Siapa yang bisa survive di sini ditentukan oleh orang-orang yang berpikir lebih canggih daripada lainnya,” katanya.
Ia berharap lembaga pendidikan di bawah Paguyuban Pasundan dapat melahirkan generasi yang memiliki kemampuan intelektual sekaligus mampu memahami perubahan lingkungan strategis Indonesia.
“Karena itu, kita berharap lembaga pendidikan di bawah Paguyuban Pasundan yang dikomandani oleh Prof. Didi Turmudzi insyaallah bisa melahirkan otak-otak terbaik di Indonesia yang bisa menavigasi Indonesia melalui turbulensi geopolitik yang sangat kompleks,” tutur Anis.
Perang Modern Berkembang Menjadi Hibrida
Dalam kuliah umum tersebut, Anis juga menjelaskan bahwa konflik modern tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan militer.
Menurutnya, berbagai instrumen seperti ekonomi, politik, geografi, intelijen, budaya, dan media dapat menjadi bagian dari persaingan antarnegara.
“Perang sekarang bersifat hibrida. Ada politiknya, ada ekonominya, ada sisi geografisnya, ada intelijennya, ada budayanya, dan ada medianya. Semua aspek terlibat dalam pertempuran,” ungkapnya.
Anis juga menyoroti perubahan keseimbangan kekuatan dunia sejak berakhirnya Uni Soviet pada 1991. Perubahan tersebut, menurutnya, turut membentuk persaingan baru antara sejumlah kekuatan global.
Ia menyinggung perkembangan China sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia serta meningkatnya persaingan strategis dengan Amerika Serikat.
“Semua sedang mengalami strategic adjustment. Karena itu, kita harus memahami apa yang sedang terjadi agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton,” tegasnya.
Diplomasi Indonesia Hadapi Dinamika Global
Anis turut memaparkan tantangan diplomasi Indonesia di tengah perubahan konfigurasi kekuatan dunia, termasuk perkembangan isu Palestina dan hubungan antarnegara.
Ia menekankan pentingnya penguatan kapasitas diplomasi serta pemahaman terhadap perubahan lingkungan strategis agar Indonesia dapat mengambil langkah yang sejalan dengan kepentingan nasional.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Paguyuban Pasundan, Didi Turmudzi mengatakan kuliah umum tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas pemahaman mengenai perubahan politik global dan dampaknya terhadap masyarakat.
“Kehormatan bagi kami karena mau datang ke Paguyuban Pasundan. Kita ingin ada gambaran perjuangan umat Islam terutama di era perubahan politik global,” ujar Didi.
Didi mengatakan Paguyuban Pasundan terus mengembangkan pendidikan dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam proses pembelajaran, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Menurutnya, pendidikan juga memiliki tanggung jawab dalam membentuk karakter dan moral generasi muda.
Didi mengajak seluruh lingkungan pendidikan Pasundan untuk terus melakukan refleksi menghadapi perubahan zaman yang dinilai menghadirkan tantangan baru di bidang budaya, ekonomi, maupun kehidupan sosial.
“Perubahan menuntut zaman baru. Tantangan semakin berat. Kita harus mampu menghadapi realitas baru, intervensi budaya, ekonomi, dan berbagai perubahan dunia,” ucap Didi.










