TVRINews, Tasikmalaya
Pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) dinilai dapat menjadi momentum penting untuk memperkuat tata kelola dan pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN), Prof. Achmad Tjachja Nugraha, mengatakan keputusan Presiden Prabowo Subianto melakukan pergantian pimpinan BGN merupakan langkah evaluatif yang wajar dalam pelaksanaan program strategis nasional dengan cakupan luas dan melibatkan anggaran besar.
Saat ditemui di Tasikmalaya, Prof. Achmad menilai langkah tersebut menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus melakukan perbaikan demi memastikan program berjalan optimal dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
"Langkah Presiden Prabowo menunjukkan komitmen yang kuat dalam melakukan evaluasi terhadap program-program prioritas pemerintah. Tujuannya bukan menghentikan program, melainkan memastikan pelaksanaannya semakin efektif, aman, dan tepat sasaran," ujarnya dalam keterangan yang diterima tvrinews.com pada Rabu, 3 Juni 2026.
Menurutnya, sejumlah persoalan yang muncul selama pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah. Berbagai laporan mengenai gangguan kesehatan dan dugaan keracunan makanan di sejumlah daerah telah memunculkan perhatian publik terhadap kualitas pengawasan dan keamanan pangan dalam program tersebut.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tercatat sebanyak 60 kasus dengan total 5.207 korban. Sementara itu, data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat 55 kasus dengan jumlah korban mencapai 5.320 orang.
Data tersebut, kata Prof. Achmad, menjadi sinyal perlunya penguatan sistem pengawasan agar kualitas makanan yang disajikan kepada penerima manfaat benar-benar terjamin.
"Munculnya ribuan kasus gangguan kesehatan menunjukkan bahwa program berskala nasional membutuhkan sistem pengawasan yang lebih ketat dan terintegrasi. Keamanan pangan harus menjadi prioritas utama agar tujuan program dapat tercapai sesuai harapan Presiden Prabowo," ucapnya.
Ia menegaskan, Program Makan Bergizi Gratis memiliki tujuan strategis dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia dan mendukung terciptanya sumber daya manusia yang unggul di masa depan.
Karena itu, setiap kelemahan yang ditemukan dalam pelaksanaannya harus segera dibenahi, mulai dari proses pengadaan bahan baku, pengolahan makanan, distribusi, hingga mekanisme pengawasan dan penanganan keluhan masyarakat.
"Program ini memiliki tujuan yang sangat mulia untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia. Oleh karena itu, setiap kekurangan harus segera diperbaiki agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," ungkapnya.
Prof. Achmad menambahkan, pergantian pimpinan BGN juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, meningkatkan akuntabilitas pelaksanaan program, serta memperketat standar keamanan pangan di seluruh rantai distribusi.
"Pergantian kepemimpinan bukanlah akhir dari Program Makan Bergizi Gratis. Sebaliknya, ini merupakan kesempatan untuk melakukan pembenahan dan memastikan program berjalan lebih baik, lebih aman, dan lebih efektif ke depan," tegasnya.
Dengan kepemimpinan baru di BGN, ia berharap tata kelola, pengawasan, dan kualitas layanan Program Makan Bergizi Gratis semakin meningkat sehingga tujuan besar meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat tercapai secara optimal.










