TVRINews, Bandung
Di balik aktivitas belajar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 16 Si Jalak Harupat Kab.Bandung, tersimpan kisah perjuangan anak-anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi untuk kembali meraih pendidikan dan menata masa depan.
Salah satunya adalah Fadil, siswa Sekolah Rakyat yang sebelumnya sempat berhenti sekolah karena kondisi ekonomi keluarganya.
Ayah Fadil, Iman Resmana, sehari-hari bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara ibunya berjualan cilok untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Keterbatasan ekonomi membuat Fadil sempat kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Namun, hadirnya Sekolah Rakyat membuka kembali jalan bagi Fadil untuk duduk di bangku sekolah dan mengejar cita-citanya.
Sebelum mengalami masa sulit tersebut, Fadil pernah merasakan kebanggaan menjadi seorang siswa. Ia sempat mengikuti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan berhasil membawa pulang piala.
Prestasi itu menjadi salah satu kenangan yang tidak pernah dilupakan Fadil. Saat itu, ia merasa sangat bahagia karena dapat berprestasi dan membuat orang tuanya bangga. Namun, kebahagiaan tersebut harus terhenti ketika kondisi ekonomi keluarga membuatnya terpaksa putus sekolah.
“Dulu saya pernah ikut O2SN dan membawa piala. Waktu itu saya senang sekali. Tapi setelah itu kesenangan saya hilang karena saya harus putus sekolah,” ujar Fadil.
Kini, kesempatan untuk kembali bersekolah membuat semangat Fadil tumbuh kembali. Ia mengaku bersyukur dapat melanjutkan pendidikan dan ingin memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin.
“Dengan adanya Sekolah Rakyat ini saya bisa melanjutkan sekolah. Saya ingin membahagiakan orang tua dan ingin menjadi orang sukses. Saya juga ingin membuktikan kepada teman-teman bahwa saya bisa. Saya tidak ingin lagi diejek teman-teman karena tidak sekolah,” kata Fadil.
Bagi Fadil, kembali mengenakan seragam dan duduk di bangku sekolah bukan sekadar kembali belajar. Ia merasa mendapatkan kesempatan untuk mengejar kembali mimpi yang sempat terhenti.
Pengalaman mengikuti O2SN dan membawa pulang piala juga menjadi penyemangat bagi Fadil untuk kembali berprestasi. Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menghalanginya untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
Di balik semangat Fadil, terdapat harapan besar dari sang ayah. Iman Resmana mengaku bahagia anaknya kini kembali mendapatkan kesempatan untuk bersekolah.
Ia berharap pendidikan Fadil tidak berhenti di jenjang sekolah, tetapi dapat berlanjut hingga perguruan tinggi seperti anak-anak lainnya.
“Saya berharap anak saya bisa sekolah lagi, bisa kuliah seperti teman-teman yang lainnya. Saya ingin anak saya punya masa depan yang cerah, jangan seperti saya, orang tuanya yang kurang berpendidikan,” tutur Iman.
Bagi Iman, pendidikan menjadi jalan agar kehidupan anaknya kelak dapat lebih baik dibandingkan dirinya. Ia ingin Fadil memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan yang lebih luas untuk menentukan masa depannya.
Ia juga berharap pengalaman pahit ketika Fadil harus berhenti sekolah tidak kembali terulang. Menurutnya, kesempatan pendidikan yang kini dimiliki Fadil harus dimanfaatkan untuk membangun masa depan.
Kisah Fadil menjadi gambaran bahwa di balik keterbatasan ekonomi, masih ada anak-anak yang memiliki keinginan kuat untuk belajar, berprestasi, dan meraih cita-cita. Sekolah Rakyat memberikan ruang bagi mereka untuk kembali mendapatkan hak pendidikan sekaligus membangun kepercayaan diri.
Di Sekolah Rakyat Terintegrasi 16 Si Jalak Harupat Bandung, Fadil bersama siswa lainnya kini menjalani hari-hari dengan rutinitas belajar, bermain, dan membangun pertemanan. Bagi Fadil, bangku sekolah yang kembali didudukinya merupakan kesempatan kedua untuk menata masa depan. Kenangan tentang piala O2SN yang pernah diraihnya menjadi pengingat bahwa ia pernah berprestasi dan mampu membuat orang tuanya bangga.
Kini, ia ingin kembali mengejar prestasi tersebut dengan semangat yang baru. Ada satu keinginan sederhana yang terus ia bawa: menjadi orang sukses dan membahagiakan orang tua.
Sementara bagi sang ayah, keberhasilan anaknya kelak bukan hanya soal pekerjaan atau penghasilan, tetapi tentang melihat Fadil memiliki kehidupan yang lebih baik.
Dari ruang-ruang kelas Sekolah Rakyat Terintegrasi 16 Si Jalak Harupat Bandung, harapan itu kembali tumbuh.
Harapan seorang anak yang sempat kehilangan kesempatan sekolah, tetapi kini kembali menemukan jalan untuk mengejar cita-cita.
Fadil pernah kehilangan kebahagiaan ketika harus meninggalkan bangku sekolah. Kini, melalui Sekolah Rakyat, ia kembali memegang harapan—bukan hanya untuk kembali belajar, tetapi untuk membuktikan bahwa ia mampu berprestasi, membahagiakan orang tua, dan meraih masa depan yang selama ini ia impikan.










