TVRINews, Cirebon
Program Sekolah Rakyat menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan dan miskin ekstrem. Di Kota Cirebon, program ini mulai memberi harapan baru bagi siswa yang sebelumnya kesulitan mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, mayoritas siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga pada desil 1 dan desil 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Mereka merupakan anak-anak yang selama ini rentan putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas Sekolah Rakyat Kota Cirebon, Rhizal, mengatakan konsep pendidikan di sekolah tersebut memang dirancang berbeda agar mampu menjangkau anak-anak dengan latar belakang khusus.
“Sekolah rakyat ini berbeda dengan sekolah pada umumnya karena di sini anak-anaknya dari latar belakang miskin ekstrem secara ekonomi di bawah rata-rata,” ujar Rhizal.
Menurutnya, Sekolah Rakyat juga menerapkan sistem kurikulum multi entry dan multi exit. Sistem tersebut memungkinkan siswa melanjutkan pendidikan sesuai jenjang terakhir yang pernah ditempuh sebelumnya.

“Anak itu bisa masuk kapan saja dan keluar kapan saja. Misalnya terakhir sekolah di kelas lima SD, di sini mereka bisa melanjutkan asalkan secara administratif sudah benar,” katanya.
Sekolah Rakyat yang berada di kawasan Pronggol, Kota Cirebon, juga dilengkapi berbagai fasilitas penunjang pendidikan. Mulai dari asrama, perpustakaan, laptop, hingga makanan bergizi disediakan untuk mendukung proses belajar siswa.
Saat ini terdapat tiga rombongan belajar atau rombel yang terdiri atas dua rombel tingkat SMP dan satu rombel tingkat SMA. Masing-masing rombel diisi sekitar 25 siswa.
Pada pagi hari, siswa belajar bersama guru di kelas, sementara sore hingga malam mereka didampingi wali asuh di asrama.
“Sejauh ini kendala yang ditangani adalah pembiasaan, karena anak-anak ini putus sekolah dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Jadi kita harus membuat mereka terbiasa kembali belajar lagi,” ungkap Rhizal.
Perubahan mulai terlihat perlahan. Anak-anak yang sebelumnya tertutup kini mulai aktif di kelas. Mereka menjadi lebih mandiri dan mulai kembali memiliki cita-cita.
Salah satunya dirasakan Danier Olivianti Hertanti. Remaja yang baru lulus SD itu memilih melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat karena kondisi ekonomi keluarganya yang terbatas.
“Sekolah di sini enak, banyak teman, wali asuhnya baik dan gurunya ngajarnya baik terus bikin aktif di kelas,” ujar Danier.
Meski tinggal jauh dari orang tua membuatnya sesekali merasa rindu rumah, Danier mengaku nyaman menjalani hari-harinya di asrama. Ketika memiliki masalah dengan teman, ia memilih bercerita kepada guru atau wali asuh.
Di balik keterbatasan yang pernah ia alami, Danier kini menyimpan mimpi besar. Ia ingin menjadi guru tari dan memiliki sanggar sendiri suatu hari nanti.
“Kadang suka kangen sama orang tua, tapi nyaman sekolah di sini untuk bisa meraih cita-cita jadi guru tari yang punya sanggar sendiri,” tuturnya.
Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Bagi mereka, sekolah ini menjadi ruang untuk kembali percaya bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan.










