TVRINews, Garut
Sekelompok perempuan lanjut usia di kawasan Kamojang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, berhasil mengembangkan sistem pertanian terpadu yang memberi dampak langsung pada peningkatan ekonomi keluarga. Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Rengganis 76, mereka mengelola pertanian, peternakan, hingga perikanan secara terintegrasi.
KWT Rengganis 76 berada di bawah binaan PLN Indonesia Power Kamojang. Anggotanya mayoritas ibu-ibu lanjut usia yang tetap aktif menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat meski tidak lagi berusia muda.
Di sektor pertanian, kelompok ini membudidayakan stroberi dan anggur. Lahan tersebut juga dikembangkan menjadi wisata edukasi, sehingga pengunjung dapat melihat proses budidaya sekaligus memetik buah langsung dari kebun.
Selain penjualan buah segar, KWT Rengganis 76 mengolah hasil panen menjadi minuman herbal berbahan tanaman rimpang. Produk tersebut dibuat dari tanaman obat keluarga seperti jahe, kunyit, sereh, jeruk, dan cengkih.
Prestasi terbesar datang dari budidaya baby buncis. Melalui kerja sama dengan koperasi, kelompok ini berhasil menembus pasar ekspor pada panen perdana dengan mengirim lebih dari tiga ton baby buncis ke Prancis.
Ketua KWT Rengganis 76, Ita Rosita, menjelaskan sistem pengelolaan keuangan kelompok dilakukan secara transparan dengan skema bagi hasil.
"Dalam pengelolaan hasil usaha, kami menerapkan sistem pembagian 70 dan 30 persen. Sebanyak 70 persen keuntungan digunakan kembali sebagai modal pengembangan kelompok, sedangkan 30 persen sisanya dibagikan langsung kepada para anggota," ujar Ita Rosita, Kamis, 11 Juni 2026.
Selain sektor pertanian, kelompok ini juga mengembangkan perikanan dan peternakan. Budidaya ikan air tawar dan ayam petelur dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan warga sekaligus menambah pendapatan.
Sebagian hasil produksi digunakan untuk konsumsi warga guna menjaga ketahanan pangan, sementara sisanya dipasarkan kepada masyarakat.
Untuk memperluas jangkauan pasar, KWT Rengganis 76 memanfaatkan pemasaran daring. Langkah digitalisasi ini membuka akses penjualan ke luar daerah.
Anggota kelompok juga rutin mengikuti pelatihan bersama kelompok lain di bawah naungan Karuhipan Kamojang, kawasan pengelolaan wisata terpadu. Kegiatan ini menjaga peningkatan kualitas produksi sekaligus memperkuat keterampilan anggota dalam pengelolaan usaha pertanian.










