TVRINews, Cirebon
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk–Cisanggarung menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi potensi fenomena El Nino “Godzilla” yang diperkirakan dapat memicu musim kemarau lebih panjang pada tahun 2026. Upaya ini difokuskan untuk menjaga ketersediaan air irigasi dan air bersih bagi masyarakat di wilayah kerjanya.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWS Cimanuk–Cisanggarung, Martius, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai unsur teknis untuk merespons potensi kekeringan, mulai dari tim reaksi cepat, tim air baku, tim geolistrik, hingga tim sumur bor. Selain itu, pengelolaan operasi sejumlah bendungan juga dioptimalkan.
“Curah hujannya jauh di bawah normal seperti yang disampaikan oleh BMKG. Jadi untuk menghadapi itu, sebagai langkah antisipasi, kami dari balai sudah menyiapkan sumber daya yang ada,” ujar Martius.
Ia menjelaskan, operasi Bendungan Jatigede, Waduk Darma, dan Bendungan Cipanas terus dioptimalkan agar suplai air bagi kebutuhan irigasi tetap terjaga, terutama untuk mendukung musim tanam kedua.
Menurutnya, saat ini kondisi tampungan air di tiga infrastruktur tersebut masih berada dalam kondisi aman dan di atas batas normal, sehingga kebutuhan irigasi masih dapat terpenuhi.
BBWS juga mengimbau pemerintah daerah untuk segera melaporkan apabila ditemukan potensi kekeringan, baik di sektor irigasi maupun permukiman, agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.
Untuk kebutuhan air bersih masyarakat, BBWS akan berkoordinasi dengan Perumda Air Minum dalam penyaluran air menggunakan mobil tangki, terutama di wilayah yang mengalami krisis air saat musim kemarau.
“Apabila memang membutuhkan ketersediaan air bersih, kami akan kerja sama dengan PDAM dalam sistem pendistribusiannya. Kalau untuk irigasi, apabila sumbernya ada, kami akan membantu melalui pompa,” kata Martius.
BBWS juga telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan, di antaranya Kabupaten Indramayu, Sumedang, Garut, Majalengka, serta kawasan pesisir timur Kabupaten Cirebon yang kerap mengalami keterbatasan air bersih saat musim kemarau.
Sementara itu, berdasarkan prakiraan BMKG Jawa Barat, curah hujan dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan berada di bawah normal dengan potensi kekeringan meningkat pada periode Agustus hingga September 2026. Kondisi ini menjadi perhatian dalam penguatan langkah mitigasi di sektor pertanian dan penyediaan air bersih di daerah terdampak.










