TVRINews - Bandung
Ribuan alumni SMA Negeri 2 Bandung menggelar reuni akbar lintas angkatan bertajuk Karetna Dua Lada yang dirangkaikan dengan deklarasi gerakan anti-perundungan. Kegiatan ini menjadi momentum penguatan karakter pendidikan sekaligus kampanye untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bebas bullying.
Lebih dari dua ribu alumni memadati lingkungan sekolah dalam ajang silaturahmi tersebut. Sejumlah tokoh nasional yang juga merupakan alumni turut hadir, di antaranya Tina Talisa, Jhon Afriandi, musisi Tri Utami, serta penulis Dewi Lestari.

Dalam kesempatan itu, para alumni juga meresmikan amphitheater terbuka yang dibangun secara swadaya. Fasilitas tersebut diserahkan untuk siswa sebagai ruang kreativitas bersama, sekaligus upaya menghapus sekat senioritas dan junioritas di lingkungan sekolah.
Ketua panitia reuni, Hendra Jaya, menyebut pembangunan fasilitas ini sebagai bentuk kontribusi alumni sekaligus wadah untuk menciptakan kegiatan siswa yang lebih inklusif.

“Ini agar kegiatan sekolah tidak lagi dibatasi oleh sekat senior dan junior, tapi lebih kolaboratif,” ujarnya.
Sementara itu, Tina Talisa menegaskan bahwa perundungan merupakan persoalan serius yang dapat berdampak jangka panjang, baik bagi korban maupun pelaku.
“Bullying adalah ancaman besar karena bisa menimbulkan trauma psikologis jangka menengah hingga panjang,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa bentuk perundungan kini semakin beragam, tidak hanya fisik dan verbal, tetapi juga terjadi di ruang digital. Karena itu, diperlukan ekosistem pendidikan yang lebih inklusif, empatik, dan kolaboratif untuk mencegah praktik tersebut.
Selain deklarasi anti-bullying, reuni akbar tersebut juga diisi dengan berbagai pertunjukan seni dari para alumni, mulai dari tari jaipong, pertunjukan linedance, hingga penampilan musik lintas generasi.










