TVRINews, Cianjur
Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, membuat warga di sejumlah wilayah kesulitan mendapatkan air bersih. Di Kecamatan Cibeber, 11 dari 18 desa dilaporkan terdampak kekeringan.
Warga kini mengandalkan sumber mata air yang debitnya terus berkurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satunya terjadi di Kampung Pasir Jariyah, Desa Sukamaju.
Sumber mata air di kawasan tersebut menjadi tumpuan warga dari sejumlah desa, terutama saat musim kemarau. Setiap hari, warga mendatangi lokasi dengan membawa jerigen dan galon kosong.
Mereka rela mengantre untuk mendapatkan air yang kemudian dibawa pulang menggunakan sepeda motor. Salah seorang warga, Wahyuni, mengaku harus mengambil air hingga dua kali dalam sehari.
Dalam sekali mengambil air, ia membawa empat galon. Air tersebut digunakan untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan sanitasi. Sementara untuk keperluan memasak, Wahyuni memilih membeli air galon.
“Sehari itu dua kali, empat galon. Untuk nyuci aja. Kalau buat masak beli galon,” ujar Wahyuni.
Wahyuni mengatakan, kondisi saat ini berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika dahulu warga masih dapat mengandalkan sumur, kini sebagian sumur mulai mengering akibat kemarau panjang.
Kondisi serupa dirasakan warga di sejumlah wilayah Kecamatan Cibeber. Dari 18 desa yang ada, 11 desa telah melaporkan terdampak kekeringan.
Sekitar 170 rukun tetangga dari total 610 RT di Kecamatan Cibeber juga terdampak kekeringan lahan dan minimnya pasokan air bersih.
Camat Cibeber Ardian mengatakan sumber mata air di Desa Sukamaju masih menjadi salah satu andalan masyarakat.
Namun, tingginya kebutuhan air membuat debit sumber mata air tersebut tidak lagi mampu memenuhi seluruh kebutuhan warga.
“Airnya memang masih ada, tetapi debitnya semakin kecil. Sementara warga yang mengandalkan sumber tersebut semakin banyak, sehingga persediaannya tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat,” kata Ardian.
Sejumlah desa yang terdampak antara lain Peteuycondong, Cibadak, Salamnunggal, Karangnunggal, Cihaur, Girimulya, Mayak, Cibarebeg, Cikondang, Sukamaju, dan Cibeber.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah Kecamatan Cibeber melakukan koordinasi dengan berbagai instansi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Distribusi air dilakukan berdasarkan skala prioritas, terutama bagi wilayah yang mengalami kondisi paling parah.
Pemerintah kecamatan menggandeng PMI, Perumdam, pemadam kebakaran, Polres Cianjur, serta sejumlah elemen masyarakat dalam penanganan kekeringan.
Ardian mengatakan koordinasi lintas instansi terus diperkuat agar kebutuhan air warga dapat segera terpenuhi.
“Kami menentukan wilayah yang paling membutuhkan terlebih dahulu. Setelah itu, distribusi dikoordinasikan bersama instansi terkait, termasuk PMI, Perumdam, Damkar, dan Polres Cianjur, agar kekurangan air bersih di masyarakat bisa segera ditangani,” ujar Ardian.
Hingga kini, warga masih mengandalkan sumber mata air yang tersisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Warga berharap distribusi air bersih terus dilakukan selama kemarau belum berakhir. Pemerintah pun diminta memastikan pasokan air tetap tersedia, terutama bagi desa-desa yang sumber airnya mulai mengering.










