TVRINews, Sumedang
Musim kemarau menyebabkan debit air Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menyusut. Kondisi ini dimanfaatkan sejumlah warga untuk mengolah lahan yang sebelumnya terendam air menjadi area bercocok tanam.
Warga di kawasan Cibungur, Kecamatan Darmaraja, memanfaatkan lahan yang muncul ke permukaan untuk menanam berbagai jenis tanaman, di antaranya mentimun dan padi. Tanaman tersebut diharapkan dapat dipanen sebelum permukaan air waduk kembali naik.
Pantauan di lokasi, Minggu, 23 Agustus 2026, menunjukkan sejumlah area yang sebelumnya terendam kini kembali terlihat. Aspal jalan dan sisa-sisa bangunan rumah warga yang terdampak pembangunan Waduk Jatigede juga mulai muncul ke permukaan.

Di beberapa titik, tanah tampak kering dan mengalami retakan. Penyusutan air juga menyebabkan sejumlah ikan ditemukan mati di area yang masih menyisakan genangan.
Salah seorang warga, Acim (69), memanfaatkan lahan yang muncul akibat surutnya waduk untuk bercocok tanam. Acim merupakan warga yang sebelumnya terdampak pembangunan Waduk Jatigede dan harus direlokasi.
Selain bercocok tanam, Acim tetap menjalankan usaha dagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, lahan yang muncul akibat surutnya waduk lebih baik dimanfaatkan daripada dibiarkan kosong.
“Lumayan untuk menambah modal dagang. Daripada nganggur, tanahnya sedang surut, saya manfaatkan untuk menanam padi dan mentimun sambil berjualan eceran,”ujar Acim.
Acim mengatakan, permukaan Waduk Jatigede mulai menyusut sejak sekitar tiga bulan terakhir. Penurunan muka air kali ini membuat area daratan yang sebelumnya terendam kembali terbuka cukup luas.

“Ini surutnya udah ada sejak tiga bulan lah. Iya surutnya jauh,”lanjutnya.
Menurut Acim, belum semua warga tertarik memanfaatkan lahan tersebut. Sebagian masih memilih melihat hasil yang diperoleh warga lain sebelum ikut bercocok tanam.
“Kalau sudah ada yang berhasil, biasanya baru ikut menanam. Kalau belum melihat hasilnya, ada saja yang malas untuk mulai,”ucapnya.
Ia menilai, kondisi surutnya Waduk Jatigede dapat menjadi peluang bagi warga untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
“Kalau hanya mengandalkan dagang, ya begitu saja. Tapi kalau punya padi atau mentimun sendiri, setidaknya tidak perlu membeli untuk kebutuhan,” tuturnya.
Warga Cari Tutut
Selain bercocok tanam, area waduk yang mengering juga dimanfaatkan warga untuk mencari tutut atau keong sawah.
Amun Lasimun (51), misalnya, datang bersama saudaranya ke kawasan tersebut untuk mencari tutut. Hasilnya tidak untuk dijual, melainkan dibawa pulang untuk dibagikan kepada masyarakat dan dimasak sendiri.
“Ini lagi nyari tutut buat ke Sumedang Kota dibawa ke masyarakat dibagi-bagi dan dimasak sendiri, enggak dijual,” kata Amun.
Amun mengaku tidak setiap hari mencari tutut. Aktivitas tersebut biasanya dilakukan sekitar satu kali dalam sepekan sekaligus menjadi kegiatan rekreasi bersama keluarga.
Dalam pencarian kali ini, ia mendapatkan sekitar 10 kilogram tutut.
“Saya enggak tiap hari, hanya satu minggu sekali. Sekalian refreshing. Alhamdulillah, surutnya Waduk Jatigede membawa berkah karena bisa dimanfaatkan untuk mencari tutut. Barusan alhamdulillah sudah dapat 10 kg,” pungkasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, elevasi normal Waduk Jatigede berada pada ketinggian sekitar 260 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara pada Minggu, 23 Agustus 2026, elevasi waduk tercatat 245,70 mdpl.
Kondisi penyusutan muka air Waduk Jatigede diperkirakan masih akan berlangsung hingga musim hujan tiba.










