TVRINews, Bandung Barat
Pemerintah terus mempercepat upaya mewujudkan swasembada susu nasional dengan meningkatkan produktivitas sapi perah. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor, yang hingga kini masih memenuhi sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional.
Berbagai strategi disiapkan pemerintah, mulai dari modernisasi peternakan, penerapan teknologi, penguatan kolaborasi dengan perguruan tinggi, hingga pembangunan kawasan peternakan sapi perah berskala besar.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, saat mengunjungi Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) di Kabupaten Bandung Barat.
Hanif mengatakan, produksi susu nasional saat ini masih didominasi Pulau Jawa. Jawa Timur menjadi penyumbang terbesar dengan sekitar 57 persen produksi nasional, diikuti Jawa Barat sebesar 30 persen dan Jawa Tengah sekitar 9 persen.
Meski demikian, produktivitas sapi perah di Indonesia dinilai masih rendah. Rata-rata seekor sapi perah hanya mampu menghasilkan sekitar 12 liter susu per hari, jauh di bawah negara-negara maju yang produksinya dapat mencapai lebih dari 30 liter per ekor per hari.
“Produktivitas sapi perah nasional harus terus ditingkatkan. Karena itu pemerintah akan menggandeng akademisi dan berbagai perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi peternakan, termasuk penerapan sistem kandang tertutup atau closed house, sehingga kesehatan ternak lebih terjaga dan produksi susu dapat meningkat,” ujar Hanif.
Selain meningkatkan produktivitas, pemerintah juga menargetkan pembangunan sekitar 20 kawasan peternakan sapi perah modern di berbagai daerah. Kawasan tersebut akan didukung jaminan pasar bagi hasil produksi peternak sebagai upaya memperkuat ekosistem industri susu nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Sementara itu, peternak sapi perah di Kabupaten Bandung Barat menyambut baik program swasembada susu yang dicanangkan pemerintah. Mereka menilai kebijakan tersebut dapat mendorong peningkatan populasi sapi perah, kualitas pemeliharaan, serta produksi susu dalam negeri.
Meski demikian, peternak berharap pemerintah juga memberikan perhatian terhadap persoalan ketersediaan pakan ternak. Kelangkaan bahan baku menyebabkan harga pakan terus meningkat dan berdampak pada tingginya biaya produksi serta kualitas hasil susu.
Salah seorang peternak sapi perah, Dadang, mengatakan keberhasilan program swasembada susu sangat bergantung pada ketersediaan pakan yang berkualitas dengan harga terjangkau.
“Program swasembada susu sangat kami dukung. Namun yang paling kami butuhkan saat ini adalah kepastian ketersediaan pakan dengan harga yang terjangkau. Jika pakan tersedia dan berkualitas, produksi susu tentu akan meningkat,” kata Dadang.
Pemerintah optimistis berbagai langkah yang tengah disiapkan, mulai dari modernisasi peternakan, peningkatan produktivitas sapi perah, hingga pembangunan kawasan peternakan terpadu, akan menjadi fondasi menuju swasembada susu nasional.
Melalui peningkatan produksi susu dalam negeri, pemerintah berharap ketergantungan terhadap impor dapat ditekan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak dan memperkuat ketahanan pangan nasional.









