TVRINews, Bandung
Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memperkuat upaya mendorong pelaku usaha industri kreatif menembus pasar internasional. Salah satu strategi yang disiapkan yakni membuka akses pelaku usaha lokal untuk mengikuti ajang Trade Expo Indonesia (TEI) guna menjaring pembeli dari berbagai negara.
Upaya tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri saat melakukan kunjungan kerja ke produsen sepatu lokal Fortuna Shoes di Kota Bandung, bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.
Dalam kunjungan itu, Dyah meninjau langsung proses produksi sepatu Fortuna Shoes, mulai dari tahap awal hingga produk siap dipasarkan. Ia mengapresiasi kualitas produk alas kaki asal Bandung tersebut yang dinilai mampu bersaing di pasar global.
Fortuna Shoes diketahui telah memasarkan produknya ke sejumlah negara, di antaranya Jepang, Inggris, dan beberapa negara di kawasan Eropa.

"Kami sangat amat bangga karena kualitas sepatunya juga sangat bagus dan berdaya saing di pasar internasional," ujar Dyah, dikutip Senin, 14 September 2026.
Kemendag Dorong Pemanfaatan SKA
Dyah mengatakan, salah satu aspek penting dalam memperkuat posisi produk lokal di pasar internasional adalah pemanfaatan Surat Keterangan Asal (SKA). Dokumen tersebut menjadi bukti bahwa barang yang diekspor diproduksi di Indonesia dan berasal dari daerah tertentu.
Kemendag bersama Pemkot Bandung memastikan proses penerbitan SKA bagi Fortuna Shoes dapat berjalan secara optimal sehingga mendukung kelancaran ekspor produk tersebut. Selain SKA, Kemendag mendorong pelaku usaha memanfaatkan Trade Expo Indonesia sebagai sarana memperluas jaringan bisnis dan mencari buyers internasional.
Pada penyelenggaraan TEI tahun sebelumnya, tercatat sekitar 8.045 buyers dari berbagai negara hadir dalam ajang perdagangan tersebut.
"Kami bangga bahwa produk Indonesia tidak kalah dengan produk-produk luar negeri. Selama ini kita juga menunjukkan bahwa kita bisa berdaya saing," tegasnya.
Kemendag, lanjut Dyah, juga memiliki jaringan perwakilan perdagangan di 33 negara melalui Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Jaringan tersebut berperan mencari calon pembeli sekaligus membuka akses pasar bagi produk Indonesia.
Penjajakan kerja sama juga dapat dilakukan secara daring melalui skema business matching dan business pitching. Dengan demikian, pelaku usaha tidak harus selalu datang langsung ke negara tujuan ekspor untuk menjajaki peluang bisnis.
Pemerintah Siapkan Perlindungan dari Produk Impor Murah
Di sisi lain, pemerintah juga berkomitmen melindungi industri dalam negeri dari tekanan produk impor berharga murah. Perlindungan terutama diarahkan kepada sektor padat karya, termasuk tekstil dan industri alas kaki.
Dyah mengatakan Kemendag siap menggunakan berbagai instrumen perdagangan, termasuk langkah anti-dumping, untuk mencegah praktik perdagangan yang tidak sehat. Kebijakan tersebut akan dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Perindustrian.
"Kita akan selalu membantu agar produksinya bisa berdaya saing dan kita aman," tuturnya.
Bandung Fokus Kembangkan Industri Sepatu dan Modest Fashion
Sementara itu, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menilai keberhasilan Fortuna Shoes menembus pasar ekspor menjadi bukti bahwa industri kreatif daerah memiliki kontribusi terhadap ekspor sekaligus pertumbuhan ekonomi.
Menurut Farhan, sektor manufaktur di Kota Bandung masih perlu dipacu. Dalam setahun terakhir, pertumbuhan manufaktur Bandung tercatat baru mencapai 0,22 persen. Ia menilai pengembangan sektor tersebut penting karena berkaitan langsung dengan penciptaan lapangan kerja sekaligus peningkatan investasi di Kota Bandung.
Saat ini, Pemkot Bandung memprioritaskan pengembangan dua subsektor manufaktur ekonomi kreatif, yakni industri alas kaki dan modest fashion atau busana muslim.

"Pertumbuhan manufaktur ini akan sangat berpengaruh terhadap penyediaan lapangan pekerjaan dan juga pengembangan investasi. Karena itu perlu perhatian khusus," imbuh Farhan.
Dorong Identitas Geografis Produk Khas Bandung
Selain meningkatkan daya saing dan akses pasar, Pemkot Bandung juga menyiapkan strategi jangka panjang untuk melindungi reputasi produk lokal melalui penerapan Identitas Geografis (IG).
Farhan berencana mendorong penerapan IG terhadap berbagai produk khas Bandung, baik dari sektor manufaktur maupun kuliner yang telah menjadi bagian dari warisan budaya daerah, seperti batagor dan mi kocok.
Menurutnya, pemberian identitas wilayah dapat memberikan perlindungan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk ketika bersaing di pasar global.
"Produk-produk manufaktur itu apabila berkembang dan sudah diberi label identitas wilayah, maka akan bisa terproteksi dengan nilai tambah yang lebih tinggi di pasar global," pungkas Farhan.










