TVRINews, Cirebon
Kenaikan harga cabai rawit merah di tingkat konsumen belum berdampak pada peningkatan pendapatan petani di Kabupaten Cirebon. Meski harga di pasar mencapai lebih dari Rp60 ribu per kilogram, petani di Desa Blender, Kecamatan Karangwareng, masih menjual hasil panennya dengan harga sekitar Rp17 ribu per kilogram.
Salah seorang petani, Jaelani, mengatakan panen saat ini baru memasuki pemetikan kedua. Namun harga di tingkat petani belum mengalami kenaikan yang berarti.
“Ini baru dua kali melakukan pemetikan. Harga jualnya masih bertahan di angka Rp17 ribu per kilogram,” ujar Jaelani pada Sabtu, 11 Juli 2026
Selain harga yang rendah, petani juga menghadapi penurunan produktivitas akibat cuaca yang kurang mendukung serta serangan penyakit tanaman. Kondisi tersebut membuat hasil panen jauh dari harapan.
Jaelani yang mengelola lahan cabai rawit seluas sekitar lima hektare mengungkapkan, dari lahan dua hektare hanya mampu menghasilkan sekitar dua kuintal cabai dalam sekali panen. Jumlah tersebut dinilai sangat rendah dibandingkan potensi produksi normal.
Menurutnya, keterbatasan tenaga pemetik turut memengaruhi proses panen. Meski hasilnya minim, petani tetap memanen cabai yang telah matang agar tidak membusuk di lahan.
“Kalau sekali petik dua hektare hanya dapat sekitar dua kuintal, itu sudah sangat minim. Daripada cabainya tidak dipetik dan rusak, tetap kami panen meski sebenarnya masih rugi karena belum menutup modal,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) Bank Indonesia, harga cabai rawit merah di tingkat konsumen mencapai Rp63.900 per kilogram. Adapun harga cabai merah keriting berada pada kisaran Rp30 ribu hingga Rp51.600 per kilogram, cabai merah besar Rp44 ribu hingga Rp51.800 per kilogram, sedangkan cabai rawit hijau dijual sekitar Rp31 ribu hingga Rp50.150 per kilogram.
Perbedaan harga yang cukup lebar antara tingkat petani dan konsumen menjadi sorotan. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam rantai distribusi dan tata niaga komoditas hortikultura, sehingga lonjakan harga di pasar belum sepenuhnya dirasakan oleh petani sebagai produsen.
Petani berharap pemerintah dapat memberikan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas tanaman, mulai dari perbaikan teknik budidaya, penanganan penyakit tanaman, hingga menjaga stabilitas harga. Dengan demikian, petani dapat memperoleh keuntungan yang lebih layak ketika harga cabai di pasaran mengalami kenaikan.










