TVRINews - Bandung
Kota Bandung kembali mendapat ruang baru bagi perkembangan perfilman melalui penyelenggaraan perdana Bandung World Cinema (BWC) 2026. Festival ini menjadi bagian dari ekspansi Jakarta World Cinema (JWC) ke Jawa Barat sekaligus mempertemukan film internasional dengan penonton, sineas, mahasiswa, komunitas, dan pelaku industri kreatif.
BWC 2026 akan berlangsung secara hybrid. Program pemutaran film secara daring tersedia melalui KlikFilm mulai 31 Oktober hingga 21 November 2026. Sementara itu, pemutaran secara langsung digelar selama delapan hari, yakni 14–21 November 2026, di CGV Paris Van Java Bandung.
Sejumlah film dari berbagai negara dijadwalkan hadir dalam festival tersebut. Beberapa di antaranya merupakan karya yang telah mendapat perhatian dalam festival film internasional, seperti Fjord karya Cristian Mungiu, Minotaur garapan Andrey Zvyagintsev, All of a Sudden karya Ryūsuke Hamaguchi, The Debut karya Jesse Eisenberg, Naza karya Yuval Abraham dan Rachel Szor, serta Woman Unknown besutan May el-Toukhy.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan dukungan Pemerintah Kota Bandung terhadap penyelenggaraan BWC sebagai salah satu upaya mendorong pertumbuhan ekosistem perfilman di daerah.
Menurut Farhan, pembangunan ekosistem perfilman membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pelaku industri, infrastruktur, suprastruktur, hingga masyarakat sebagai bagian dari rantai perkembangan industri film.

“Ekosistem syarat pertamanya adalah pelaku. Pelakunya sudah ada. Kita ini regulator saja, enggak usah jadi pelaku,” ujar Farhan kutip Senin, 5 Oktober 2026.
Selain itu, ia juga menilai kehadiran festival film internasional di Bandung dapat memperluas akses masyarakat terhadap perkembangan sinema global. Di sisi lain, kegiatan perfilman juga dinilai memiliki potensi ekonomi karena melibatkan banyak tenaga kerja dari berbagai bidang.
“Satu film enggak mungkin pekerjanya cuma belasan, bisa berpuluh dan dampaknya bisa beratusan orang mendapatkan pekerjaan. Makanya itu jadi penting,” ucapnya.
Sementara itu, Executive Director BWC Frederica mengatakan Bandung dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena memiliki basis penonton film atau sinefil yang terus tumbuh.
Menurut Frederica, respons penonton terhadap film-film internasional akan menjadi salah satu indikator penting dalam pelaksanaan BWC perdana. Ia berharap pemutaran di CGV Paris Van Java dapat menarik tingkat keterisian penonton yang tinggi.
Jika mendapat respons positif, penyelenggara membuka peluang agar penyelenggaraan berikutnya dapat menjangkau lebih banyak jaringan CGV di Bandung.
Tidak hanya menghadirkan pemutaran film, BWC 2026 juga menyiapkan program edukasi bertajuk “In Conversation With” yang berlangsung pada 15–19 November 2026 di CGV Paris Van Java.
Program tersebut menjadi ruang diskusi antara pelaku industri perfilman, sineas muda, dan komunitas untuk membahas berbagai aspek, mulai dari proses kreatif, peningkatan keterampilan, hingga perkembangan industri film.
BWC juga memberikan porsi bagi karya lokal. Sejumlah film pendek produksi filmmaker Bandung akan masuk dalam rangkaian festival sebagai bagian dari upaya membuka ruang bagi talenta-talenta baru.
Frederica berharap kehadiran program tersebut dapat mendorong regenerasi filmmaker lokal agar tidak berhenti pada produksi film pendek, tetapi berkembang hingga mampu menghasilkan film panjang.
“Kita memang pengen ada regenerasi filmmaker dari generasi sekarang jadi yang bisa bikin film panjang,” katanya.
Rangkaian BWC 2026 akan ditutup dengan program Open Air Cinema pada 21 November 2026 di Taman Balai Kota Bandung.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dapat menyaksikan kompilasi film pendek karya mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Bandung. Film klasik restorasi Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail juga akan diputar, mengingat film tersebut memiliki keterkaitan sejarah dengan Kota Bandung.
Steering Committee BWC Pidi Baiq mengatakan, kehadiran festival baru di Bandung diharapkan dapat menambah alternatif bagi masyarakat dalam menikmati sekaligus mengapresiasi karya-karya film.
“Saya ingin di Bandung juga ada festival film selain FFB yang legendaris itu. Mudah-mudahan ini bisa juga manfaat seperti FFB,” pungkas Pidi Baiq.
Penyelenggara berharap keberhasilan BWC 2026 tidak semata-mata dilihat dari jumlah penonton. Antusiasme publik, keterlibatan komunitas, ulasan terhadap film, serta partisipasi dalam berbagai program pendukung juga menjadi bagian penting dari keberlangsungan festival.
Melalui Bandung World Cinema 2026, Kota Bandung kembali mendapat ruang untuk mempertemukan penonton dengan sinema dunia sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan komunitas dan regenerasi sineas lokal.










