TVRINews, Cirebon
Air mata Istoifah Aminah tak terbendung saat impiannya menunaikan ibadah haji akhirnya menjadi kenyataan. Setelah menabung selama 29 tahun dari hasil berjualan rujak di pinggir jalan, warga Kota Cirebon itu dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 8 Mei mendatang.
Di balik keberangkatannya tahun ini, tersimpan kisah panjang tentang kesabaran, ketekunan, dan doa yang tak pernah putus. Perempuan yang tinggal di Kelurahan Karyamulya, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat itu mulai menyisihkan penghasilannya sejak tahun 1997.
Dengan pendapatan yang tidak menentu sebagai pedagang rujak, perjalanan menuju Baitullah bukanlah hal yang mudah. Apalagi, perempuan berusia 57 tahun itu juga menjadi tulang punggung keluarga.
Sedikit demi sedikit, hasil dagangannya ia tabung, hingga terkumpul dalam kurun waktu hampir tiga dekade. Semua dilakukan demi satu impian besar: menunaikan rukun Islam kelima.
Ada kisah haru lain yang selalu ia ingat. Setiap musim haji tiba, Istoifah kerap tak kuasa menahan air mata saat melihat rombongan jemaah berangkat. Sambil melantunkan selawat, ia hanya bisa berdoa agar suatu hari menjadi bagian dari mereka.
“Menabung sejak 1997. Awalnya untuk biaya anak sekolah sampai sarjana, sisanya saya sisihkan untuk haji,” ujar Istoifah Aminah.
Kini, ibu dengan satu cucu itu tinggal menanti hari keberangkatan. Berbagai perlengkapan pun telah ia siapkan, mulai dari pakaian, obat-obatan, hingga kebutuhan pribadi selama menjalankan ibadah.
Dengan penuh haru, ia berharap seluruh proses keberangkatannya diberikan kelancaran.
“Semoga diberi kesehatan, umur panjang, dan semuanya dimudahkan. Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” tuturnya.
Perempuan yang dahulu hanya bisa menyaksikan keberangkatan jemaah dari kejauhan, kini justru akan menjadi salah satunya, diiringi doa dan lantunan selawat dari orang-orang terdekat.










