TVRINews, Bandung
Harga emas dunia mengalami tren penurunan dalam sepekan terakhir di tengah gejolak geopolitik dan tingginya suku bunga global. Kondisi tersebut turut memengaruhi pasar emas nasional, namun di sisi lain mendorong pelaku industri perhiasan untuk berinovasi agar tetap mampu mempertahankan produksi dan daya saing.
Situasi tersebut terlihat dalam ajang Bandung Jewellery Fair 2026 yang diikuti lebih dari 80 peserta dari sektor swasta dan industri kecil menengah (IKM). Melalui pameran ini, para pelaku industri berupaya menjaga eksistensi sekaligus memperluas pangsa pasar domestik maupun internasional di tengah fluktuasi harga emas.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, mengatakan pihaknya mengapresiasi konsistensi Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) dalam memfasilitasi pelaku industri melalui penyelenggaraan pameran tersebut.
“Produsen perhiasan mulai berinovasi dengan membuat perhiasan berkadar karat lebih rendah dan gramasi yang lebih ringan sehingga harganya lebih terjangkau. Harapannya industri tetap berproduksi dan konsumen tetap membeli perhiasan,” ujarnya, Jumat, 12 Juni 2026.
Strategi penyesuaian gramasi dan kadar karat dinilai menjadi salah satu cara agar produk perhiasan tetap dapat dijangkau masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Langkah tersebut juga membantu industri padat karya ini mempertahankan aktivitas produksinya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal APEPI Iskandar Husin menilai penurunan harga emas saat ini merupakan bagian dari konsolidasi harga yang dipengaruhi berbagai faktor global, termasuk kondisi geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi di sejumlah negara.
“Bagi investor jangka panjang, penurunan harga emas justru menjadi momentum yang baik untuk kembali membeli emas. Demikian juga bagi pecinta perhiasan yang ingin menambah koleksinya,” kata Iskandar.
Melalui pameran dan berbagai inovasi produk, industri perhiasan nasional diharapkan tetap tumbuh dan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi kerakyatan di tengah tantangan ekonomi global.










