TVRINews, Bandung
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan transformasi digital mengubah kebutuhan dunia kerja. Perguruan tinggi pun didorong menyesuaikan kurikulum agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan industri.
Hal tersebut disampaikan Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan RI, Sugeng Heri Suseno dalam International Seminar of Eurasia Community 2026 di Universitas Pasundan, Bandung, Rabu,7 Oktober 2026.
Sugeng mengatakan, perubahan lanskap ketenagakerjaan saat ini dipengaruhi tiga faktor utama, yakni perkembangan AI dan disrupsi digital, transisi menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan, serta perubahan demografi dan care economy.
“Ada tiga global drivers yang mengubah lanskap dunia kerja, yaitu perkembangan AI dan disrupsi digital, ekonomi hijau dan berkelanjutan, serta perubahan demografi,” ujar Sugeng dalam keterangan yang dikutip, Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurutnya, perubahan tersebut akan berdampak terhadap struktur pekerjaan. Sekitar 92 juta pekerjaan diproyeksikan terdampak atau hilang pada 2030. Namun, dalam periode yang sama diperkirakan muncul sekitar 170 juta pekerjaan baru.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui reskilling dan upskilling. Sugeng menyebut sekitar 59 persen angkatan kerja perlu meningkatkan atau memperbarui keterampilannya.
“Karena itu, reskilling dan upskilling menjadi kebutuhan penting bagi tenaga kerja untuk menghadapi perubahan dunia kerja,” katanya.
Ia menjelaskan, kompetensi yang dibutuhkan tidak lagi hanya kemampuan teknis. Tenaga kerja juga dituntut memiliki kemampuan komunikasi, adaptasi, kolaborasi dengan teknologi AI, pola pikir berkembang, serta kemampuan berinovasi dan berwirausaha.
“Lulusan yang diperlukan adalah mereka yang memiliki core and technical skill, human skill, AI collaboration skill, growth mindset, serta entrepreneurial and innovative mindset,” ujarnya.
Sugeng juga menyoroti kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkannya, jumlah pengangguran terbuka mencapai sekitar 7,22 juta orang atau 4,62 persen. Lulusan SMA dan SMK disebut masih menjadi salah satu kelompok dengan jumlah pengangguran terbesar.
Untuk memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri, pemerintah mendorong penguatan pengalaman kerja melalui program magang. Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp6 triliun untuk program magang tahun ini.
“Program magang selama enam bulan salah satunya ditujukan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa,” kata Sugeng.
Ia juga meminta perguruan tinggi tidak berhenti pada kurikulum yang ada, tetapi terus menyesuaikannya dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
“Kampus harus merespons perubahan dengan melakukan penyesuaian kurikulum. Jangan sampai stagnan dan tidak melakukan perubahan,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Pasundan Azhar Affandi mengatakan perguruan tinggi memiliki tantangan untuk memastikan lulusan tidak hanya mengantongi ijazah dan transkrip nilai, tetapi juga memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
“Lulusan bukan hanya memiliki ijazah dan transkrip nilai, tetapi juga harus memiliki kompetensi lain yang berhubungan dengan kebutuhan kerja,” ujar Azhar.
Menurutnya, keterhubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri perlu diperkuat agar kompetensi yang diperoleh mahasiswa sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
Azhar juga mendorong hasil penelitian di perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dilanjutkan ke tahap hilirisasi dan dimanfaatkan oleh industri.
“Riset yang kita hasilkan jangan hanya berhenti di laboratorium. Harus ada hilirisasi sehingga menghasilkan inovasi teknologi yang dapat masuk ke industri dan memberikan manfaat,” katanya.
International Seminar of Eurasia Community 2026 merupakan bagian dari International Class Programme – Eurasia Foundation 2026 dengan tema “Entrepreneurship-Based Community Empowerment Model in Europe and Asia”.
Kegiatan tersebut diikuti akademisi, praktisi, mahasiswa, serta peserta dari sejumlah negara di Asia. Rangkaian Eurasia Foundation 2026 dijadwalkan berlanjut melalui program International Lecture hingga Desember 2026 dan kegiatan pemberdayaan masyarakat internasional.










