TVRINews, Cirebon
Hamparan sawah yang mulai menguning menghadirkan harapan baru bagi para petani di Kabupaten Cirebon, Jawa barat, Jum’at, 15 Mei 2026. Memasuki musim panen, kepastian harga dan penyerapan hasil panen menjadi hal yang paling dinantikan.
Padi yang telah merunduk itu akhirnya dipanen, Petani kemudian memasukan padinya kedalam mesin treser atau perontok padi. Dalam sekejap, bulir padi pun terpisah dari batang.
Beberapa petani lainnya tampak sibuk mengangkut gabah hasil panen, untuk segera di timbang. Hal ini tentu yang paling ditunggu-tunggu bagi para petani pejuang pangan negeri.
Mereka tersenyum melihat hasil panen kali ini membawa harapan yang berbeda.
“Ya ini panen dan kemungkinan minggu terakhir selesai panennya,” ujar Muslim Rojai sambil mengawasi proses panen di sawahnya.
Bagi para petani di Desa Tegalkarang, panen bukan sekadar rutinitas tahunan. Panen adalah penentu keberlangsungan hidup keluarga mereka untuk beberapa bulan ke depan.
Rojai memahami betul bagaimana rasanya menjadi petani ketika harga gabah jatuh. Ia pernah berada di titik ketika hasil panen tak mampu menutup biaya operasional pertanian maupun kebutuhan rumah tangga.
“Ya dulu saya pernah panen di harga cuma Rp3.500, sebelum ada Bulog turun, pernah Rp4.000, di bawah HPP ya. Akhirnya ya tidak bisa mencukupi, apalagi kebutuhan rumah tangga. Untuk biaya operasional juga kurang. Akhirnya kesemangatan petani untuk menjadi petani itu ya sangat tidak semangat,” katanya.
Namun situasi itu perlahan berubah. Kehadiran Perum Bulog Cabang Cirebon yang menyerap gabah petani membuat harga gabah di tingkat petani ikut terdongkrak.
“Lagi bagus harga gabah. Harganya di atas apa yang ditentukan oleh Bulog. Bulog kan Rp6.500, sekarang lagi Rp7.300 di tingkat petani,” ujarnya.
Menurut Rojai, kebijakan harga dasar dari Bulog menjadi penopang penting bagi kehidupan petani. Setidaknya, petani kini memiliki kepastian harga saat panen raya datang.
“Alhamdulillah kebantu dengan ada kebijakan harga dasar atau harga minimal dari Bulog, jadi harga di lapangan itu bersaing. Jadi secara otomatis petani diuntungkan dengan harga yang bagus,” katanya.
Di Desa Tegalkarang, luas lahan pertanian mencapai 125,5 hektare. Sebagian besar sawah kini telah dipanen, bahkan beberapa petani mulai kembali mengolah lahan untuk musim tanam berikutnya atau MT2.
“Di Desa Tegalkarang itu luasnya 125,5 hektare. Alhamdulillah ini udah hampir semuanya panen, malah sudah pengolahan lahan lagi,” ujar Rojai.
Dalam satu hektare lahan, hasil panen petani rata-rata mencapai enam hingga tujuh ton gabah. Hasil itulah yang kemudian menjadi penopang kehidupan petani.
“Pertama untuk operasional kelanjutan dari usaha tani. Kedua untuk kebutuhan rumah tangga, kayak biaya sekolah dan lain-lain lah, kalau lebih ya bisa ditabung,” katanya.
Rojai bukan hanya seorang petani. Ia juga Ketua Gapoktan Tani Makmur yang membawahi enam kelompok tani dengan luas hamparan sekitar 125,5 hektare. Selain bertani, ia bersama kelompoknya mengembangkan peternakan domba dan sapi yang terintegrasi dengan pertanian.
Jerami sisa panen yang biasanya dibakar, kini dimanfaatkan menjadi pakan ternak.
“Ya, kebetulan di samping usaha pertanian, saya juga sebagai peternak sapi. Jadi limbah jeraminya tidak saya bakar tapi dimanfaatkan untuk pakan ternak. Jadi mengurangi biaya usaha peternakan,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, limbah peternakan berupa kotoran dan urin ternak juga diolah kembali menjadi pupuk organik untuk sawah.
“Limbah peternakan baik padat maupun cair diolah menjadi pupuk organik yang bisa dimanfaatkan untuk lahan pertanian, sehingga bisa mengurangi biaya operasional pertanian. Jadi terintegrasi antara pertanian dan peternakan,” katanya.
Menurutnya, sistem itu mampu menekan biaya usaha pertanian dan peternakan hingga 50 persen.
Kelompok tani yang dipimpinnya kini mengelola sekitar 200 ekor domba dan 54 ekor sapi yang sebagian dipersiapkan untuk musim kurban. Menariknya, para peternak tersebut juga merupakan petani yang sehari-hari bekerja di sawah.
Di tengah terik siang dan suara mesin treser yang terus berputar, Rojai tetap bertahan menjadi petani. Baginya, sawah bukan sekadar lahan mencari nafkah, tetapi juga ruang untuk menjaga kehidupan banyak orang.
Sementara, Kehadiran Perum Bulog Cabang Cirebon yang turun langsung menyerap gabah petani menjadi harapan di tengah panen musim tanam pertama atau MT1. Selain membantu menjaga stabilitas harga di tingkat petani, langkah tersebut juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Perum Bulog Cabang Cirebon terus mempercepat penyerapan gabah dan beras hasil panen petani di sejumlah wilayah sentra pertanian di Cirebon dan sekitarnya.
Kepala Perum Bulog Cabang Cirebon, Imam Mahdi, mengatakan hingga saat ini pihaknya telah menyerap 184.600 ton gabah kering panen petani.
“Sampai dengan hari ini kita sudah menyerap gabah kering panen petani itu 184.600 ton, dan ini sudah lebih dari pencapaian tahun lalu. Target kami adalah 197 ribu ton di musim tanam pertama atau MT1 yang hampir selesai,” ujar Imam Mahdi kepada tvrinews.com.
Jumlah serapan tersebut bahkan melampaui capaian tahun sebelumnya. Tingginya penyerapan membuat stok cadangan pangan Bulog Cirebon kini mencapai 216.800 ton setara beras.
“Stok kita banyak saat ini adalah 216.800 ton setara beras, dan ini stok terbesar sepanjang Bulog khususnya Kancab Cirebon,” katanya.
Besarnya serapan gabah membuat Bulog Cirebon tidak hanya mampu menjaga stok pangan di wilayah sendiri, tetapi juga mulai memasok kebutuhan beras ke berbagai daerah di Indonesia. Distribusi beras dari Cirebon kini telah dikirim ke sejumlah daerah di Jawa Barat hingga luar pulau.
“Jadi kita sudah mulai mengirimkan beras kita ke luar Cirebon mulai dari Jawa Barat sudah ke Cianjur, ke Bogor, Bandung. Untuk wilayah di luar Jawa Barat mengirim ke Medan, Riau, dan Kalimantan Barat. Tahun ini targetnya 22 ribu ton, sudah jalan 5 ribu ton,” ujarnya.
Distribusi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerataan stok sekaligus menjaga stabilitas pasokan beras nasional di berbagai daerah.
Besarnya stok juga membuat Bulog harus menambah kapasitas penyimpanan dengan menyewa sekitar 45 gudang tambahan. Saat ini Bulog Cirebon hanya memiliki 10 kompleks pergudangan.
Selain itu, Bulog juga berencana membangun tiga gudang baru di Arjawinangun, Gintung, dan Majalengka dengan kapasitas masing-masing mencapai 3.500 ton.
“Kita saja sampai menyewa kurang lebih 45 gudang tambahan karena gudang milik Bulog Cirebon hanya ada 10 kompleks pergudangan,” lanjutnya.
Meski panen utama mulai berakhir, Bulog memastikan tetap menyerap hasil panen pada musim tanam kedua dan ketiga atau panen gadu.
“Kita hanya menjaga kalau misalkan ada para petani kita yang mungkin tidak terserap oleh pasar, sehingga nanti kita wajib hadir di tengah-tengah mereka,” ujarnya.
Saat ini harga gabah di wilayah Cirebon berada di kisaran Rp7.600 hingga Rp7.800 per kilogram. Sedangkan di wilayah Indramayu harga gabah mencapai Rp8.000 hingga Rp8.200 per kilogram gabah kering panen.
Untuk menjaga stabilitas harga pangan di masyarakat, Bulog juga menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) di pasar maupun desa-desa.
“Kita sedang melakukan gerakan pangan murah. Tujuannya menghadirkan sembako yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat dengan harga yang terjangkau,” kata Imam Mahdi.
Dalam satu titik pelaksanaan Gerakan Pangan Murah, Bulog menggelontorkan hingga 10 ton bahan pangan.
Melalui penyerapan gabah petani dan distribusi pangan murah, Bulog berupaya menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan kebutuhan masyarakat, sekaligus memperkuat cadangan pangan nasional di tengah tantangan ekonomi dan perubahan iklim.










