TVRINews - Subang
Debit Sungai Cikembang dan Citombe di Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, menurun drastis akibat musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat Perumda Air Minum Tirta Rangga Subang (TRS) mewaspadai terganggunya pasokan air baku bagi sekitar 2.500 pelanggan.
Penurunan debit sungai terlihat di Unit Pengolahan Air (UPA) Tanjungsiang, Desa Buniara, Kecamatan Tanjungsiang. Unit pengolahan tersebut mengandalkan air baku dari Sungai Cikembang dan Citombe dengan kapasitas pengolahan maksimal sekitar 30 liter per detik.
Air hasil pengolahan dari unit tersebut dipasok untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di Kecamatan Tanjungsiang dan wilayah sekitarnya, termasuk Kecamatan Cisalak.
Direktur Utama Perumda TRS, Lukman Nurhakim, mengatakan debit sungai dalam tiga bulan terakhir terus menurun. Meski produksi air masih dapat dipertahankan, kondisi debit saat ini dinilai sudah terbatas.
“Sejak tiga bulan terakhir, sungai surut drastis, lebih surut. Tetapi alhamdulillah masih bisa mencukupi untuk produksi, tetapi memang pas-pasan. Jadi kami harus betul-betul memaksimalkan pengolahan, termasuk kebocoran, karena kondisi debit yang terbatas ini ketika ada kebocoran sedikit pun langsung berpengaruh pada pelanggan,” ujar Lukman.
Penurunan debit sungai tersebut diperkirakan mencapai sekitar 60 persen. Kondisi ini menjadi perhatian karena sumber air baku di wilayah tersebut masih bergantung pada sungai alam.
Operator di UPA Tanjungsiang diminta meningkatkan kewaspadaan dan memastikan proses produksi berjalan seoptimal mungkin. Perumda TRS juga mengantisipasi kondisi yang lebih berat apabila dalam dua bulan ke depan hujan belum turun dan debit sungai terus menyusut.
Selain kuantitas air, perubahan musim juga memengaruhi kualitas air baku. Saat kemarau, air sungai cenderung lebih bening sehingga proses pengolahan relatif lebih efisien. Namun, ketika hujan turun, air sungai dapat menjadi sangat keruh dan membuat proses pengolahan lebih berat.
Lukman mengatakan kondisi sungai saat ini berbeda dibandingkan lima hingga sepuluh tahun lalu. Perubahan debit dan kondisi alam tersebut terus dipantau untuk menjaga keberlangsungan produksi air bersih.
Hingga kini, produksi air masih dapat dipertahankan. Namun, Perumda TRS mengimbau pengelolaan air dilakukan seefisien mungkin seiring menurunnya debit sumber air akibat musim kemarau.
Langkah antisipasi dilakukan agar pasokan air bagi sekitar 2.500 pelanggan tetap terjaga apabila kondisi sungai kembali mengalami penurunan debit.










