TVRINews - Cirebon
Masyarakat dan para petani tebu di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kembali menggelar tradisi “kawin tebu” sebagai ungkapan rasa syukur menyambut musim panen dan giling tebu tahun 2026. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini berlangsung meriah di Desa Sindanglaut dan menjadi simbol harapan meningkatnya hasil produksi tahun ini.
Prosesi adat tersebut diwarnai arak-arakan batang tebu sepanjang kurang lebih satu kilometer menuju Pabrik Gula Sindanglaut. Ratusan warga turut memadati jalur iring-iringan untuk menyaksikan “pasangan pengantin” tebu yang dihias layaknya pengantin dalam pernikahan adat.
Dalam prosesi itu, batang tebu yang disimbolkan sebagai mempelai pria dipakaikan busana beskap, sementara tebu mempelai wanita dihias dengan kebaya putih lengkap dengan berbagai aksesori. Sejumlah batang tebu lain juga turut dihias sebagai simbol keluarga yang ikut mengiringi prosesi tersebut.
Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia, Ali Mazazi, menjelaskan bahwa tradisi ini mengandung nilai filosofis yang erat dengan kehidupan petani.
“Makna kawin tebu ini sangat dalam. Tebu bukan hanya sekadar tanaman manis, tetapi juga simbol keberkahan dan kehidupan. Dua tebu yang disandingkan ini menggambarkan kebahagiaan dan harapan,” ujarnya
Ia juga berharap produksi gula dari Cirebon dapat terus meningkat dan menjadi salah satu penopang kebutuhan nasional, sejalan dengan program swasembada gula pemerintah.
“Harapannya, hasil tebu dari Cirebon bisa menjadi produk unggulan, baik di tingkat Jawa Barat maupun nasional. Ini juga mendukung program pemerintah dalam swasembada gula,” tambahnya.
Sementara itu, General Manager PG Sindanglaut, Rony Kurniawan, menyebutkan bahwa tradisi kawin tebu telah berlangsung sejak tahun 1896, atau lebih dari satu abad lalu, sebagai bentuk syukur sebelum dimulainya masa giling.
“Alhamdulillah, kegiatan selamatan giling tahun 2026 dan tradisi kawin tebu ini kembali kita laksanakan. Ini sudah menjadi agenda tahunan yang berlangsung sejak 1896, sebagai wujud rasa syukur petani dan pabrik sebelum memasuki masa produksi,” jelasnya.
Menurut Rony, tradisi tersebut juga menjadi simbol kerja sama antara petani dan pihak pabrik gula dalam proses produksi.
“Ini merupakan simbol kemitraan, di mana petani menyerahkan hasil tebunya untuk digiling, dan kami berupaya menghasilkan gula dengan kualitas terbaik dan efisiensi tinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi cuaca tahun ini diperkirakan mendukung peningkatan hasil panen. Musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino dinilai dapat meningkatkan kualitas tebu dan rendemen gula.
“Berdasarkan perkiraan BMKG, kondisi kemarau tahun ini cukup mendukung, sehingga diharapkan produksi bisa meningkat,” katanya.
PG Sindanglaut menargetkan rendemen gula sekitar 7,3 persen dengan total produksi mencapai kurang lebih 14 ribu ton atau rata-rata 150 ton per hari. Perbaikan harga gula di tingkat produsen juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
Acara kemudian ditutup dengan prosesi “surak uang” yang menjadi simbol kegembiraan dan harapan akan rezeki melimpah bagi para petani.
Tradisi kawin tebu ini pun terus menjadi bagian dari kearifan lokal Cirebon yang tetap terjaga, sekaligus menandai dimulainya musim panen dengan optimisme hasil yang lebih baik.










